PRAKTIKUM GELOMBANG DAN OPTIK
“PEMBIASAN
PADA KACA PLAN PARALEL”
Nama
Kelompok 10 :
1.
Mufidah Nurul Hidayah (12030654058)
2.
Eli Nurhayati (13030654052)
3.
Nur Jannatin (13030654060)
4.
Raka Prasetyo N (13030654063)
5.
Renyta Ayu C. (13030654072)
Pendidikan
IPA B 2013
PRODI PENDIDIKAN IPA
FAKULTAS MATEMATIKA ILMU DAN PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2015
ABSTRAK
Percobaan
yang kami lakukan pada hari kamis, 19 November 2015 di laboratorium IPA UNESA
dengan judul “ Pembiasan pada Kaca Plan Paralel” yang bertujuan untuk
menentukan besar nilai indeks bias dan pergeseran sinar cahaya pada kaca plan
paralel. Metode yang digunakan yaitu meletakkan kaca plan paralel di atas
kertas putih dan menggambarnya, membuat garis normal, menentukan sinar datang
dengan sudut tertentu, menancapkan jarum pada garis sinar datang, mengamati
posisi jarum dari sisi lain kaca plan paralel, menancapkan jarum lain pada
titik dimana kedudukan jarum berhimpit dengan jarum di sisi lain (pada garis
sudut datang), membuat garis sinar bias, mengukur sudut bias, dan mengukur
besar pergeserannya. Berdasarkan hasil praktikum ini didapat nilai indeks
rata-rata sebesar 1,44 yang terpaut sebesar 0,06 dari indeks bias kaca yaitu
1,50.
Kata kunci : Indeks bias, Pergeseran sinar cahaya, Kaca Plan
Paralel
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Adanya pergeseran pada letak benda yang dilihat
pada kaca plan paralel dari letak benda sebenarnya, membuat fisikawan mencoba
menjelaskan fenomena tersebut dengan istilah pembiasan sinar yang melewati
medium, dimana setiap medium dilewati sinar mempunyai nilai indeks bias.
Menurut
Tipler (2001: 446) pembiasan adalah perunahan arah dari sinar yang
ditransmisikan karena mengenai sebuah permukaan bidang batas yang memisahkan
dua medium berbeda. Indeks bias adalah perbandingan lau cahaya di ruang hampa
terhadap laju cahaya di dalam medium.
Pada
percobaan ini, mengambar kaca plan paralel lalu membentuk garis normal dan
menentukan sinar datang dengan sudut yang sudah ditentukan. Pengaruh pemberian sudut
inilah dapat menentukan indeks bias dan pergeseran sinar cahaya pada kaca plan
paralel, untuk lebih jelasnya akan dibahas pada bab-bab berikut.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang diatas dapat diambil suatu rumusan masalah, sebagai berikut :
1. Bagaimana
besarnya indeks bias kaca plan paralel?
2. Bagaimana
besarnya pergeseran sinar cahaya pada kaca plan paralel?
C.
Tujuan
Adapun tujuan dari
percobaan ini, adalah :
1. Menentukan
besarnya indeks bias kaca plan paralel
2. Menentukan
besarkan besarnya pergeseran sinar cahaya pada kaca plan paralel.
D.
Hipotesis
Adapun hipotesis dari
percobaan ini, yaitu :
“Perbandingan dari
sinus datang engan sinus sudut bias adalah konstan”
BAB
II
KAJIAN
TEORI
Pembiasan cahaya berarti pembelokan arah rambat cahaya saat
melewati bidang batas dua medium bening yang berbeda indeks biasnya. Pada Hukum
I Snellius berbunyi, “sinar datang, sinar bias, dan garis normal terletak pada
satu bidang datar. Sedangkan Hukum II Snellius berbunyi, “jika sinar datang
dari medium renggang ke medium rapat (misalnya dari udara ke air atau dari
udara ke kaca), maka sinar dibelokkan mendekati garis normal. Jika sebaliknya,
sinar datang dari medium rapat ke medium renggang (misalnya dari air ke udara)
maka sinar dibelokkan menjauhi garis normal”. Hukum Snellius dapat dituliskan
sebagai berikut:
n = sin i/sin r
dengan,
i = sudut datang
r = sudut bias
n = indeks bias
Indeks bias
mutlak medium yaitu indeks bias medium saat berkas cahaya dari ruang hampa
melewati medium tersebut. Indek bias mutlak suatu medium dituliskan nmedium.
Indeks bias mutlak kaca dituliskan nkaca, indeks bias mutlak air
dituliskan nair dan seterusnya. Oleh karena c selalu lebih
besar dari pada v maka indeks bias suatu medium selalu lebih dari satu nmedium
>1.
Contoh indeks bias mutlak beberapa zat.
Gambar 1
Indeks Bias Beberapa Zat
Sumber:
http://penjagahati-zone.blogspot.co.id
Pembiasan
cahaya adalah peristiwa penyimpangan atau pembelokan cahaya karena melalui dua
medium yang berbeda kerapatan optiknya. Arah
pembiasan cahaya dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1. Mendekati
Garis Normal
Cahaya dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya merambat dari medium
optik kurang rapat ke medium optik lebih rapat, contohnya cahaya merambat dari
udara ke dalam air.
2. Menjauhi
Garis Normal
Cahaya dibiaskan menjauhi garis normal jika cahaya merambat dari medium
optik lebih rapat ke medium optik kurang rapat, contohnya cahaya merambat dari
dalam air ke udara.
Syarat-syarat terjadinya
pembiasan :
a.
Cahaya
melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya;
b.
Cahaya
datang tidak tegak lurus
terhadap bidang batas (sudut datang lebih kecil dari 90o)
Beberapa contoh gejala
pembiasan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari diantaranya :
1)
Dasar kolam
terlihat lebih dangkal bila dilihat dari atas.
2)
Kacamata
minus (negatif) atau kacamata plus (positif) dapat membuat jelas pandangan bagi
penderita rabun jauh atau rabun dekat karena adanya pembiasan.
3) Terjadinya pelangi setelah turun hujan.
Salah satu medium yang dapat membuat cahaya terbiaskan dan
dapat diamati pembiasannya adalah kaca planparalel. Kaca planparalel adalah
sebuah kaca yang terdiri dari beberapa bidang datar di sekitarnya. Bentuk kaca
planparalel adalah sebuah balok sehingga dapat memungkinkan pengamatan yang
berbeda-beda tergantung ketebalannya. Jika sinar datang menuju kaca
planparalel, sinar yang dipantulkan dibelokkan menuju garis normal. Di sisi
lain, berkas cahaya yang muncul dalam kaca dibiaskan ke udara, sudut bias lebih
besar dari sudut datang dan sinar yang dipantulkan dibelokkan menjauhi garis
normal. Hasil dari pembiasan tersebut adalah sebuah pergeseran sinar cahaya
yang seharusnya tetap lurus menembus menjadi terbelokkan tetapi tetap sejajar
dengan sinar aslinya. Pergeseran sinar tersebut dapat diamati dengan jelas
tergantung medium yang dilewatinya.
Besarnya pergeseran sinar (t) pada kaca planparalel dapat
ditentukan dengan menggunakan persamaan:
Keterangan :
t = Pergeseran
sinar yang melewati kaca planparalel
i = Sudut sinar
datang
r = Sudut sinar
bias
d = Tebal kaca
BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
|
No.
|
Nama Alat dan Bahan
|
Jumlah
|
|
1
|
Kaca
Plan Pararel
|
1
buah
|
|
2
|
Jarum
Pentul
|
Secukupnya
|
|
3
|
Penggaris
|
1
buah
|
|
4
|
Kertas
HVS putih
|
10
lembar
|
|
5
|
Busur
derajat
|
1
buah
|
|
6
|
Ball-point
|
2
buah
|
B. Rancangan Percobaan
A.
Variabel
Percobaan
1. Variabel
Manipulasi : Sudut Datang (i)
Definisi Operasional :
Sudut datang adalah sudut yang dibentuk antara sinar datang yang menyentuh sisi
kaca plan pararel dengan garis normal. Sudut datang dimanipulasi sebesar 25◦,
30◦, 35◦, 40◦, 45◦, 50◦,
55◦, 60◦ , 65◦ dan 70◦
2. Variabel
Kontrol : Jenis Kaca dan Tebal Kaca
Definisi Operasional : Jenis kaca yang digunakan dalam
percobaan adalah sama yaitu kaca plan pararel yang memiliki ketebalan yang sama
pula.
3. Variabel
Respon : Sudut bias (r) dan
pergeseran (t)
Definisi
Operasional : Yang dimaksudkan dengan panjang sudut bias adalah sudut yang dibentuk antara
sinar yang keluar (garis pada kaca) dengan garis normal, dimana nanti akan
diukur dengan busur derajat. Sedangkan pergeseran (t) adalah jarak antara sinar
datang dengan sinar yang meninggalkan sisi kaca plan pararel.
.
B.
Langkah
Percobaan
1. Meletakkan
kaca plan pararel diatas kertas A4 kemudian menggambar atau menyalin bentuk
dari kaca plan pararel.
2. Membuat
garis normal pada kertas yang sudah digambari.
3. Membuat
garis sinar datang (i) dengan sudut 25◦
4. Menancapkan
jarum pentul pada garis sinar datang.
5. Mengamati
jarum pentul pada garis sinar datang dari sisi lain pada kaca plan pararel.
6. Menancapkan
jarum pada gambar percobaan sehingga berimpitan dengan jarum pada sinar datang.
7. Menggambar
garis pada titik-titik jarum yang berimpitan.
8. Menggambar
garis dari titik sudut datang pada batas sisi kaca plan pararel sampai titik
sinar yang meninggalkan kaca plan pararel pada batas sisi kaca plan pararel
(garis bias).
9. Mengukur
besar sudut bias.
10. Mengukur
besarnya pergeseran (t)
11. Mengulangi
percobaan sebanyak 10 kali dengan besar sudut datang yang berbeda.
12. Menghitung
nilai indeks bias pada data percobaan yang telah dihasilkan.
Membandingkan nilai indeks bias kaca plan pararel
secara teoritis dengan nilai indeks bias yang didapat melalui percobaan.
BAB IV
DATA, ANALISIS, DAN DISKUSI
A.
Data
Berdasarkan
percobaan yang telah kami lakukan yang berjudul pembiasan pada kaca plan
paralel, diperoleh data sebagai berikut :
Tabel
4.1 Data Hasil Percobaan
|
No.
|
(i
± 1)o
|
(t
± 0,1) cm
|
r
(o)
|
|
1
|
25
|
0,9
|
24,23
|
|
2
|
30
|
0,9
|
22,30
|
|
3
|
35
|
1,4
|
22,30
|
|
4
|
40
|
1,8
|
23,74
|
|
5
|
45
|
2,1
|
27,00
|
|
6
|
50
|
2,3
|
31,38
|
|
7
|
55
|
2,6
|
34,20
|
|
8
|
60
|
2,8
|
38,66
|
|
9
|
65
|
3,3
|
39,70
|
|
10
|
70
|
3,8
|
42,30
|
Keterangan :
i = sudut datang
t = pergeseran yang diperoleh dari
pengamatan
r = sudut bias
d = ketebalan kaca plan paralel = 6 cm
indeks bias prisma = 1,5
B.
Analisis
Berdasarkan data hasil pengamatan diatas dapat
dihitung besarnya sudut bias (r) yang dibentuk oleh sudut datang masing-masing
dengan menngunakan persamaan berikut :
Tabel
4.2 Besarnya indeks bias dari perhitungan
|
No
|
(i
± 1)o
|
(t
± 0,1) cm
|
r
(o)
|
n
|
|
1.
|
25
|
0,9
|
24,23
|
1,05
|
|
2.
|
30
|
0,9
|
22,30
|
1,32
|
|
3.
|
35
|
1,4
|
22,30
|
1,50
|
|
4.
|
40
|
1,8
|
23,74
|
1,60
|
|
5.
|
45
|
2,1
|
27,00
|
1,58
|
|
6.
|
50
|
2,3
|
31,38
|
1,48
|
|
7.
|
55
|
2,6
|
34,20
|
1,46
|
|
8.
|
60
|
2,8
|
38,66
|
1,40
|
|
9.
|
65
|
3,3
|
39,70
|
1,42
|
|
10.
|
70
|
3,8
|
42,30
|
1,40
|
|
Total
|
|
|
14,44
|
|
|
Rata-rata
|
|
|
1,44
|
|
Dari tabel 4.2 diatas, dapat diketahui bahwa untuk
sudut datang sebesar 25o diperoleh sudut bias sebesar 24,22o
dan indeks bias kaca sebesar 1,05o, indeks bias ini sangat jauh
kurang daripada indeks bias kaca plan paralel yang diketahui secara teori. Hal
ini diperoleh karena besarnya bergeseran (t) dengan sudut datang tersebut,
yaitu sebesar 0,9 cm. Besarnya perbedaan antar indeks bias hasil pengamtan
dengan indeks bias pada teori disebabkan oleh beberapa hal, diantara yaitu
kesalahan paralaks yang dilakukan oleh praktikan, penggambaran sudut datang,
sudut bias, serta pergeseran pada kertas yang memungkinkan adanya kesalahan
atau dalam kata lain kurang tepat (benar).
Selain itu indeks bias rata-rata dari percobaan juga
berbeda dengan indeks bias sesuai teori yang ada. Selisih antar keduanya yaitu
sebesar 0,06. Sama seperti pada percobaan yang pertama , ketidaksesuaian antara
indeks bias hasil percobaan dengan indeks bias pada teori disebabkan oleh
kemungkinan adanya kesalah paralaks oleh praktikan. Serta adanya kemungkinan
kesalah pada saat proses penggambaran (sudut datang, dan pergeseran yang
dibentuknya). Sehingga ketika dicari nilai sudut biasnya dengan menggunakan persamaan diatas akan
diperoleh nilai pergeseran yang berbeda pula.
A. Diskusi
Pada
sekitar tahun 1621, ilmuwan Belanda bernama Willebrord Snell (1591 –1626)
melakukan eksperimen untuk mencari hubungan antara sudut datang dengan sudut
bias. Hasil eksperimen ini dikenal dengan nama hukum Snell yang berbunyi :
1. Sinar
datang, garis normal, dan sinar bias terletak pada satu bidang datar.
2. Hasil
bagi sinus sudut datang dengan sinus sudut bias merupakan bilangan tetap dan
disebut indeks bias.
Ketika cahaya melintas dari suatu medium ke medium
lainnya, sebagian cahaya datang dipantulkan pada perbatasan. Sisanya lewat ke
medium yang baru. Jika seberkas cahaya datang membentuk sudut terhadap
permukaan (bukan hanya tegak lurus), berkas tersebut dibelokkan pada waktu
memasuki medium yang baru. Pembelokan ini disebut Pembiasan. Sudut bias
bergantung pada laju cahaya kedua media dan pada sudut datang.
Menurut Hukum
Snellius,
“Dalam
peristiwa pembiasan cahaya, perbandingan sinus sudut datang dan sinus sudut
bias adalah konstan”. Secara teori jika cahaya merambat
dari medium optik kurang rapat ke medium optik yang lebih rapat, maka sudut
bias akan mendekati garis normal. Sedangkan Jika cahaya merambat dari medium
optik lebih rapat ke medium optik yang kurang rapat, maka sudut bias yang
terbentukakan menjauhi garis normal.
Sebenarnya pembiasan pada kaca plan paralel ini
terjadi dua kali pembiasan yaitu pada saat bayamgam benda ketika diudara menuju
ke bagian kaca plan paralel, dan kedua pada saat bayangan benda dari kaca plan
paralel menuju keluar dari kaca (menuju keudara lagi). Semakin besar sudut
datang yang membentuk, maka sudut sudut biasnya ssemakin kecil dengan catatan
jika pembiasan dari medium yang kurang rapat menuju medium yang lebih rapat.
Pada percobaan kali ini semakin besar sudut datangnya maka sudut bias bayangan
(r’) yang dibentuk juga akan semakin miring (menjauhi garis normal. Akan tetapi
sudut bias yang dimaksudkan pada persamaan pembiasan adalah sudut bias yang
dibentuk karena adanya sudut datang dari luar kaca plan paralel (dengan medium
udara) menuju ke dalam kaca plan paralel. Sehingga diperoleh besarnya indeks
bias seperti pada data yang diperoleh sebelumnya.
Berdasarkan data yang diperoleh diatas dapat
diketahui bahwa besarnya sudut bias lebih lebih kecil daripada sudut datangnya.
Pembiasan yang terjadi pada percobaan kali ini adalah pembiasan dari medium
yang kurang padat menuju ke medium yang lebih padat. Berarti sudut bias yang
terbentuk seharusnya semakin kecil (karena mendekati garis normal). Dan dari
hasil percobaan kali ini juga menun jukkan bahwa sudut bias yang terbentuk pada
masing-masing sudut datang lebih kecil daripada sudut datangnya sendiri.
sehingga antar teori dengan hasil percobaan dapat dikatakan sesuai, dan dapat
diterima.
Pada tabel 4.2 tampak bahwa terdapat perbedaan
antara hasil percobaan dengan nilainya secara teori. Yaitu pada besarnya nilai
indeks bias. Dari semua percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui terdapat
perbedaan yang sangat menonjol pada percobaan yang pertama yaitu selisih antara
indeks bias yang diperoleh dari pengamatan dengan indeks bias dari teori
terpaut jauh daripada indeks bias pengamatan yang lainnya.
Selain itu indeks bias rata-rata dari percobaan juga
berbeda dengan indeks bias sesuai teori yang ada. Selisih antar keduanya yaitu
sebesar 0,6.
Perlu diketahui juga bahwa ketebalan kaca plan
paralel pada percobaan ini yaitu sebesar 6 cm. Ketebalan kaca planparalel
menentukan cepat/lamanya suatu benda dibiaskan pada kaca plan paralel tersebut.
Selisih antara
indeks bias rata-rata dari percobaan dengan indeks bias sesuai teori
disebabkan oleh beberapa faktor seperti yang telah dijelaskan pada bagian
analisis sebelumnya, antara lain kemungkinan adanya kesalah paralaks oleh
praktikan. Serta adanya kemungkinan kesalah pada saat proses penggambaran
(sudut datang, dan pergeseran yang dibentuknya). Sehingga ketika dicari nilai
sudut biasnya dengan menggunakan persamaan
diatas akan diperoleh nilai pergeseran yang berbeda pula. Dan dari percobaan ini diperoleh standart
deviasi sebesar 0,16.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Praktikum pembiasan pada kaca plan paralel yang
bertujuan menentukan besarnya indeks bias dan pergeseran sinar cahaya pada kaca
plan paralel ini didapatkan nilai indeks bias berdasarkan perhitungan dengan
menggunakan rumus,
dan
besarnya pergeseran sinar cahaya dengan menggunakan rumus,
Percobaan
ini dilakukan sebanyak 10 kali percobaan dengan sudut datang yang berbeda-beda
yakni secara berurutan 25o; 30o; 35o; 40o;
45o; 50o; 55o; 60o; 65o;
dan 70o. Didapat nilai pergeseran sinarnya secara berurutan dalam
satuan cm yakni 0,9; 0,9; 1,4; 1,8; 2,1; 2,3; 2,6; 2,8; 3,3; dan 3,8. Dan
masing-masing nilai indeksnya adalah 1,05; 1,32; 1,50; 1,60; 1,58; 1,48; 1,46;
1,40; 1,42; dan 1,40. Secara teori nilai indeks bias kaca adalah sebesar 1,50 yang
berbeda dengan hasil percobaan kami yakni nilai indeks rata-rata nya sebesar
1,44. Hal ini dikarenakan praktikan kurang teliti dalam melakukan percobaan ini
seperti dalam proses penggambaran sudut datang dan pergeseran, maupun menentukan
sudut bias yang dihasilkan.
A.
Saran
Dalam melakukan percobaan pembiasan pada kaca plan
paralel ini harus lebih teliti khususnya dalam menentukan sudut bias yang
dihasilkan berdasarkan sudut datangnya. Sudut bias ini akan sejajar dengan
sudut datangnya jika masing-masing ditarik garis yang akan menunjukkan bahwa
antara sudut datang dan sudut bias saling sejajar.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar