LAPORAN
PRAKTIKUM STRUKTUR, FUNGSI, DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN
“Pengaruh Cahaya terhadap Kecepatan Transpirasi pada
Tanaman Pacar Air (Impatien balsemia)”
Disusun oleh:
Kelompok 3
|
1. Dinda Maulida Azkiya Ilma (13030654050)
2. Nur Jannatin (13030654060)
3. Fidya Amelia (13030654061)
4. Moh. Sholahuddin Ghozali (13030654068)
5. Winda Nur Ainun (13030654081)
|
Pendidikan IPA B 2013
PROGRAM
STUDI S-1 PENDIDIKAN IPA
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
NEGERI SURABAYA
2015
ABSTRAK
Percobaan
transpirasi bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap kecepatan
transpirasi dengan metode penimbangan. Metode percobaan ini dilakukan dengan
metode penimbangan labu erlenmeyer yang berisi tanaman baik sebelum dan sesudah
diberi perlakuan yang kemudian daun – daun tanaman diambil, diletakkan pada
kertas grafik, menggambar pola daun, dan menghitung luas daun tersebut.
Variabel manipulasi dari percobaan ini adalah intensitas cahaya. Intensitas
cahaya yang dimaksud adalah tempat gelap dan terang (terletak dengan jarak 20
cm dari lampu pijar 100 watt). Untuk variabel yang dibuat sama adalah panjang
tanaman 20 cm dari pucuk batang, jenis tanaman pacar air, dan volume air dalam
tabung erlenmeyer sebanyak 200 ml. Dan untuk variabel respon dari percobaan ini
merupakan kecepatan respirasi gram per menit/ cm. Hasil percobaan menunjukan bahwa terjadi penurunan massa pada erlenmeyer pertama yang
diletakkan pada intensitas cahaya 1540 Cd/m2 rata-rata sebesar 0,16
gram dan erlenmeyer kedua yang diletakkan
pada intensitas cahaya 0 Cd/m2 rata-rata sebesar 0,10 gram. Perubahan
berat ini mengindikasikan bahwa pada kedua tanaman pacar air (Impatiens balsemia) terjadi transpirasi
atau hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan tumbuhan karena proses
fisiologis tumbuhan seperti proses transpirasi.
Kata
kunci : transpirasi, intensitas cahaya
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sel hidup tumbuhan berhubungan langsung dengan atmosfer
melalui stomata dan lenti sel sehingga transpirasi terjadi melalui kutikula
pada daun tumbuh-tumbuhan. Sel-sel hidup itu berada dalam keadaan turgid dan
sedang dan sedang bertranspirasi dilapisi oleh lapisan tipis air yang diperoleh
dari dalam sel. Sebalikya, persediaan air ini diperoleh dengan cara translokasi
air dan unsur-unsur penghantar dari akar melalui xilem. Akar-akar pohon
tersebut memperoleh air dengan cara mengabsorpsi melalui permukaan yang
berhubungan dengan air di dalam tanah. Seluruh proses ini digerakkan oleh
energi yang diberikan pada daun dan batang-batang pada tanaman tersebut
(Wanggai,Frans. 91: 2007).
Tumbuhan, seperti juga hewan memiliki adaptasi evolusioner dalam bentuk
respons fisiologis terhadap perubahan jangka pendek. Misalnya jika daun
pada tumbuhan mengalami kekurangan air, daun-daun akan menutup stomata, yang
merupakan lubang kecil dipermukaan daun tersebut. Respons darurat ini akan
membantu tumbuhan menghemat air dengan cara mengurangi transpirasi, yaitu
hilangnya air dari daun melalui penguapan (Campbell.N.A,292:2000)
Dalam kehidupan sehari- hari , kita tanpa sadar menyadari
bahwa tumbuhan melakukan proses transpirasi . Transpirasi adalah proses
hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak di
atas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan lentisel.80% air
yang ditranspirasikan berjalan melewati lubang stomata, paling besar peranannya
dalam transpirasi.Transpirasi berperan
di dalam pengangkutan air ke daun dan difusi air antar sel, penyerapan dan
pengangkutan air dan zat hara,
pengangkutan asimilat, membuang kelebihan air, pengaturan bukaan stomata dan mempertahankan
suhu daun. Transpirasi di pengaruhi oleh beberapa faktor ,yaitu faktor internal
dan eksternal. Oleh karena itu, dalam praktikum ini kami mencoba apa saja
pengaruh lingkungan terhadap proses transpirasi.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, didapatkan rumusan
masalah dari percobaan yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
Bagaimana pengaruh lingkungan terhadap kecepatan
transpirasi dengan metode penimbangan?
1.3
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari
percobaan yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
Untuk
mengetahui pengaruh lingkungan terhadap kecepatan transpirasi dengan metode
penimbangan.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Transpirasi
Transpirasi dapat
diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan
melalui stomata, kutikula dan lentisel . Kemungkinan kehilangan air dari
jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi
porsi kehilangna tersebut sangat kecil dibanding dengan yang hilang melalui
stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari
jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata.
Transpirasi merupakan bagian dari siklus air, dan itu adalah hilangnya uap air
dari bagian tanaman (mirip dengan berkeringat), terutama pada daun tetapi juga
di batang, bunga dan akar. Permukaan daun yang dihiasi dengan bukaan yang
secara kolektif disebut stomata, dan dalam kebanyakan tanaman mereka lebih
banyak pada sisi bawah dedaunan. Transpirasi juga dapat mendinginkan tanaman
dan memungkinkan aliran massa nutrisi mineral dan air dari akar ke tunas.
Aliran massa air dari akar ke daun disebabkan oleh penurunan hidrostatik (air)
tekanan di bagian atas dari tumbuhan karena difusi air dari stomata ke
atmosfer. Air diserap pada akar dengan osmosis, dan semua nutrisi mineral
dilarutkan perjalanan dengan melalui xilem.
Tingkat
transpirasi secara langsung berkaitan dengan partikel penguapan air dari
permukaan tanaman, terutama dari bukaan permukaan, atau stomates, pada daun.
Stomata untuk sebagian besar kehilangan air oleh tanaman, tetapi beberapa
penguapan langsung juga terjadi melalui permukaan sel-sel epidermis daun.
Transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui stomata dapat melalui
kutikula walaupun hanya 5-10% dari jumlah air yang ditranspirasikan di daerah
beriklim sedang. Air sebagian besar menguap melalui stomata,sehingga jumlah dan
bentuk stomata sangat mempengaruhi laju transpirasi.
Hanya 1-2% dari
seluruh air yang ada dalam tubuh tumbuhan digunakan dalam fotosintesis
atau dalam kegiatan metabolic sel-sel daunnya. Sisanya menguap dari daun dalam
proses transpirasi. Bila stomata terbuka, uap air ke luar dari daun. Jika daun
itu harus terus berfungsi dengan baik maka air segar harus disediakan kepada
daun untuk menggantikan yang hilang pada waktu transpirasi.
Proses transpirasi
akan menyebabkan potensial air lebih rendah dibandingkan batang ataupun akar.
Akibatnya, daun seolah-olah menghisap air dari akar.
Untuk menguapkan
air, tumbuhan butuh energy baru atau berubah energy menjadi panas. Dengan
demikian, transpirasi menimbulkan pengaruh pendinginan pada daun. Kebutuhan
panas untuk menguapkan air berasal dari sinar matahari yang disalurkan melalui
cahaya langsung, radiasi dan konveksi. Air merupakan bagian terbesar dari
jaringan tumbuhan, semua proses tumbuh dan berkembang terjadi karena adanya
air.
Ada tiga jenis
transpirasi, yaitu :
1.
Transpirasi Kutikula.
Adalah evaporasi air yang
tejadi secara langsung melalui kutikula epidermis. Kutikula daun secara relatif
tidak tembus air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula
hanya sebesar 10%. Oleh karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi
melaui stomata.
2.
Transpirasi Stomata
Sel-sel mesofil daun tidak
tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut terdapat ruang-ruang udara
yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel mesofil yang jenuh air. Air menguap
dari dinding-dinding basah ini ke ruang-ruang antar sel, dan uap air kemudian
berdifusi melalui stomata dari ruang-ruang antar sel ke athmosfer di luar.
Sehingga dalam kondisi normal evaporasi membuat ruang-ruang itu selali jenuh
uap air. Asalkan stomata terbuka, difusi uap air ke athmosfer pasti terjadi
kecuali bila atmosfer itu sendiri sama-sama lembap.
3.
Transpirasi Lentisel
Yaitu pada daerah kulit kayu
yang berisi sel-sel. Uap air yang hilang melalui jaringan ini adalah 0,1%
2.2 Pengukuran
Transpirasi
Pengukuran laju
transpirasi tidaklah terlalu mudah dilakukan. Kesulitan utamanya adalah karena
semua cara pengukuran traspirasi mengharuskan penempatan suatu tumbuhan dalam
berbagai kondisi yang mempengaruhi laju transpirasi. Ada empat cara
laboratorium untuk menaksir laju transpirasi:
1.
Kertas korbal klorida
Pada dasarnya cara ini adalah pengukuran uap air yang
hilang ke udara yang diganti dengan pengukuran uap airyang hilang ke dalam
kertas kobal klorida kering. Kertas ini berwarna biru cerah dan tetapi menjadi
biru pucat dan kemudian berubah menjadi merah jambu bila menyerap air. Sehelai
kecil kertas biru cerah ditempelkan pada permukaan daun dan ditutup dengan
gelas preparat. Demikian juga bagian bawah daun. Waktu yang diperlukan untuk
mengubah warna biru kertas menjadi merah jambu dijadikan ukuran laju kehilangan
air dari bagian daun yang ditutup kertas.
2.
Potometer
Alat ini mengukur
pengambilan air oleh sebuah potongan pucuk, denga asumsi bahwa bila air
tersedia dengan bebas untuk tumbuhan, jumlah air yang diambil sama dengan
jumlah air yang dikeluarkan oleh transpirasi.
3.
Pengumpulan uap air yang ditranspirasi
Cara ini
mengharuskan tumbuahn atau bagian tumbuhan dikurung dalam sebuah bejana tembus
cahaya sehingga uap air yang ditranspirasikan dapat dipisahkan.
4.
Penimbangan langsung
Pengukuran transpirasi yang paling
memuaskan diperoleh dari tumbuhan yang tumbuh dalam pot yang telah diatur
sedemikan rupa sehingga evaporasi dari pot dan permukaan tanah dapat dicegah.
Kehilangan air dari tumbuhan ini dapat ditaksir untukjangka waktu tertentu
dengan penimbangan langsung.
2.3
Faktor yang
mempengaruhi Transpirasi
Ø Faktor dalam adalah:
1.
Penutupan stomata: Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata
karena kutikula secara relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi
yang terjadi apabila stomata tertutup. Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih
banyak pula kehilangan air tetapi peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit
untuk mesing-mesing satuan penambahan lebar stomata Faktor utama yang mempengaruhi
pembukaan dan penutupan stomata dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya dan
kelembapan.
2.
Jumlah dan ukuran stomata: Jumlah dan ukuran stomata, dipengaruhi oleh
genotipe dan lingkungan mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap
transpirasi total daripada pembukaan dan penutupan stomata.
3.
Jumlah daun: Makin luas daerah permukaan daun, makin besar transpirasi.
4.
Penggulungan atau pelipatan daun: Banyak tanaman mempunyai mekanisme dalam
daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan air
terbatas.
5.
Kedalaman dan proliferasi akar: Ketersedian dan pengambilan kelembapan
tanah oleh tanaman budidaya sangat tergantung pada kedalaman dan proliferasi
akar. Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air, dari
proliferasi akar (akar per satuan volume tanah ) meningkatkan pengambilan air
dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan permanen.
Ø Faktor luar adalah:
1. Sinar matahari: Seperti yang telah
dibicarakan didepan, maka sinar menyebabkan membukanya stoma dan gelap
menyebabkan tertutupnya stoma, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat
transpirasi. Karena sinar itu juga mengandung panas (terutama sinar
infra-merah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikian
menaikkan tempratur. Kenaikan tempratur sampai pada suatu batas yang tertentu
menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar transpirasi.
2. Temperatur: Merupakan faktor lingkungan yang terpenting yang
mempengaruhi transpirasi daun yang ada dalam keadaan turgor. Suhu daun di dalam
naungan kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang kena sinar
matahari mempunyai suhu 10o -20o F lebih tinggi daripada suhu udara. Pengaruh
tempratur terhadap transpirasi daun dapat pula ditinjau dari sudut lain, yaitu
didalam hubungannya dengan tekanan uap air di dalam daun dan tekanan uap air di
luar daun. Kenaikan temperatur menambah tekanan uap di dalam daun. Kenaikan
tempratur itu sudah barang tentu juga menambah tekanan uap di luar daun, akan
tetapi berhubung udara di luar daun itu tidak di dalam ruang yang terbatas,
maka tekanan uap tiada akan setinggi tekanan uap yang terkurung didalam daun.
Akibat dari pada perbedaan tekanan ini, maka uap air akan mudah berdifusi dari
dalam daun ke udara bebas.
3. Kebasahan udara (Kelembaban udara): Pada hari cerah udara
tidak banyak mengandung uap air. Di dalam keadaan yang demikian itu, tekanan
uap di dalam daun jauh lebih lebih tinggi dari pada tekanan uap di luar daun,
atau dengan kata lain, ruang di dalam daun itu lebih kenyang akan uap air
daripada udara di luar daun, jadi molekul-molekul air berdifusi dari
konsentrasi tinggi (di dalam daun) ke konsentrasi yang rendah (di luar daun.
Kesimpulannya ialah, udara yang basah menghambat transpirasi, sedang udara
kering melancarkan transpirasi. Pada kondisi alamiah, udara selalu mengandung
uap air, biasanya dengan konsentrasi antara 1 sampai 3 persen. Sebagian dari
molekul air tersebut bergerak ke dalam daun melalui stomata dengan proses
kebalikan transpirasi. Laju gerak masuknya molekul uap air tersebut berbanding
dengan konsentrasi uap air udara, yaitu kelembaban. Gerakan uap air dari udara
ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang hilang. Dengan demikian,
seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun dengan meningkatnya
kelembaban udara.
4. Angin: Pada umumnya angin yang sedang, menambah kegiatan
transpirasi. Karena angin membawa pindah uap air yang bertimbun-timbun dekat
stoma. Dengan demikian, maka uap yang masih ada di dalam daun kemudian mendapat
kesempatan untuk difusi ke luar . Angin mempunyai pengaruh ganda yang
cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi. Secara singkat dapat
disimpulkan bahwa angin cenderung untuk meningkatkan laju transpirasi, baik di
dalam naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan tetapi, di bawah sinar
matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian terhadap
penurunan laju transpirasi, cenderung lebih penting daripada pengaruhnya
terhadap penyingkiran uap air.Dalam udara yang sangat tenang suatu lapisan
tipis udara jenuh terbentuk di sekitar permukaan daun yang lebih aktif
bertranspirasi. Jika udara secara keseluruhan tidak jenuh, maka akan terdapat
gradasi konsentrasi uap air dari lapisan udara jenuh tersebut ke udara yang
semakin jauh semakin tidak jenuh. Dalam kondisi seperti itu transpirasi
terhenti karena lapisan udara jenuh bertindak sebagai penghambat difusi uap air
ke udara di sekitar permukaan daun. Oleh karena itu, dalam udara yang tenang
terdapat dua tahanan yang harus ditanggulangi uap air untuk berdifusi dari ruang-ruang
antar sel ke udara luar. Yang pertama adalah tahanan yang harus dilalui pada
lubang-lubang stomata, dan yang kedua adalah tahanan yang ada dalam lapisan
udara jenuh yang berdampingan dengan permukaan daun. Oleh karena itu dalam
udara yang bergerak, besarnya lubang stomata mempunyai pengaruh lebih besar
terhadap transpirasi daripada dalam udara tenang. Namun, pengaruh angin
sebenarnya lebih kompleks daripada uraian tadi karena kecendrungannya untuk
meningkatkan laju transpirasi sampai tahap tertentu dikacaukan oleh
kecendrungan untuk mendinginkan daun-daun sehingga mengurangi laju transpirasi.
Tetapi efek angin secara keseluruhan adalah selalu meningkatkan transpirasi.
5. Keadaan air dalam tanah: Air di dalam tanah
ialah satu-satunya suber yang pokok, dari mana akar-akar tanaman mendapatkan
air yang dibutuhkannya. Absorpsi air lewat bagian-bagian lain yang ada di atas
tanah seperti batang dan daun juga ada, akan tetapi pemasukan air lewat
bagian-bagian itu tiada seberapa kalau dibanding dengan penyerapan air melalui
akar.Tersedianya air dalam tanah adalah faktor lingkungan lain yang
mempengaruhi laju transpirasi. Bila kondisi air tanah sedemikian sehingga
penyediaan air ke sel-sel mesofil terhambat, penurunan laju transpirasi akan
segera tampak. Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan
laju absorbsi air dari akar. Pada siang hari, biasanya air ditranspirasikan
dengan laju yang lebih cepat daripada penyerapannya dari tanah. Hal tersebut
menimbulkan defisit air dalam daun. Pada malam hari akan terjadi kondisi yang
sebaliknya, karena suhu udara dan suhu daun lebih rendah. Jika kandungan air
tanah menurun, sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah
ke dalam akar menjadi lebih lambat.
2.4
Mekanisme Transpirasi
Transpirasi dimulai dengan penguapan air
oleh sel sel mesofil ke rongga antar sel yang ada dalam daun. Dalam hal ini
rongga antar sel jaringan bunga karang merupakan rongga yang besar, sehingga
dapat menampung uap air dalam jumlah banyak. Penguapan air ke rongga antar sel
akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air.
Sel-sel yang menguapkan airnya kerongga
antar sel, tentu akan mengalami kekurangan air sehingga potensial airnya
menurun. Kekurangan ini akan diisi oleh air yang berasal dari xilem tulang
daun, yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang
menerima dari akar dan seterusnya. Uap air yang terkumpul dalam ronga antara
sel akan tetap berada dalam rongga antar sel tersebut, selama stomata pada
epidermis daun tidak membuka. Aapabila stomata membuka, maka akan ada
penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfer kalau tekanan uap air di
atmosfer lebih rendah dari rongga antar sel maka uap air dari rongga antar sel
akan keluar ke atmosfer dan prosesnya disebut transpirasi. Jadi syarat utama
untuk berlangsungnya transpirasi adalah adanya penguapan air didalam daun dan
terbukanya stomata.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis
penelitian yang digunakan dalam praktikum Transpirasi adalah percobaan atau
eksperimen. Hal ini dikarenakan dalam praktikum menggunakan
variabel yang dapat dimanipulasi.
3.2. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu
Pelaksanaan Praktikum
a. Hari
: Selasa
b. Tanggal : 12 Mei 2015
c. Waktu
: pukul 15.00 – 17.00 WIB
2.
Tempat Pelaksanaan : Laboratorium Sains
FMIPA UNESA Ketintang, Surabaya
3.3. Alat dan Bahan
1.
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
a. Erlenmeyer 250 ml 2 buah
b. Sumbat erlenmeyer dengan lubang di
tengahnya 2
buah
c. Timbangan 1 buah
d. Termometer, higrometer 1
buah
e. Lux meter 1
buah
f. Bohlam lampu 100 watt 1
buah
g. Lampu duduk 1
buah
h. Pisau tajam 1
buah
i.
Penggaris 1
buah
j.
Kamera 1
buah
2. Bahan yang digunakan dalam praktikum
ini adalah :
a.
Air Secukupnya
b.
Vaselin Secukupnya
c.
Kertas
grafik/milimeter 1
lembar
d.
Tanaman
Pacar air (Impatien balsemia) yang 2 pucuk
memiliki kondisi hampir sama sepanjang 20 cm
3.4. Variabel
Pecobaan
a) Variabel Manipulasi
: Perlakuan
lingkungan tanaman Pacar Air
Definisi Operasional : Perlakuan
lingkungan tanaman Pacar Air yang dilakukan pada erlenmeyer 1 yaitu diletakkan
di dalam ruangan dan
erlenmeyer 2 pada tempat dengan jarak 20 cm dari lampu pijar 100 watt.
b)
VariabelRespon
: Kondisi lingkungan, Massa, dan Luas
total
daun
Definisi Operasional : Kondisi lingkungan kedua tempat tersebut meliputi suhu,
intensitas cahaya dan kelembaban. Massa erlenmeyer beserta perlengkapannya
diukur setiap 30 menit dengan menggunakan timbangan. Luas total daun diukur
dengan membuat pola masing-masing
daun pada kertas grafik/milimeter setelah penimbangan terakhir.
c)
Variabel
Kontrol : Jenis
tanaman Pacar Air, Volume air, dan
Lama Perlakuan
Definisi Operasional : Menggunakan jenis tanaman
Pacar Air yang sama untuk setiap
percobaan. Menggunakan volume
air yang sama untuk setiap percobaan pada erlenmeyer yaitu 150 mL. Serta lama
perlakuan yang juga sama dengan lama percobaan diukur setiap 30 menit sebanyak
3 kali sehingga lama perlakuan berlangsung selama 1,5 jam.
3.5. Langkah Kerja :
1. Menyiapkan
bahan dan alat yang diperlukan.
2. Menyediakan
2 buah erlenmeyer, Mengisi dengan air volume 150 ml.
3. Memotong miring pangkal pucuk batang tanaman pacar air
dalam air, dan segera memasukkan potongan tanaman tersebut pada tabung
erlenmeyer melalui lubang pada sumbat sampai bagian bawahnya terendam air.
Membuang bunga, kuncup, daun yang rusak dan mengolesi luka dengan vaselin.
Demikian pula mengolesi celah-celah yang ada dengan vaselin (misalnya sekitar
sumbat penutup).
4. Menimbang
kedua erlenmeyer tersebut lengkap dengan tanaman dan air yang ada di dalamnya
dan catat.
5. Meletakkan
erlenmeyer 1 di dalam ruangan dan erlenmeyer 2 pada tempat dengan jarak 20 cm
dari lampu pijar 100 watt. Mengukur kondisi lingkungan kedua tempat tersebut
meliputi suhu, intensitas cahaya dan kelembaban.
6. Setiap
30 menit menimbang erlenmeyer beserta perlengkapannya dan catat.
7. Mengulangi
pengukuran sebanyak 3 kali.
8. Setelah
penimbangan terakhir, mengambil daun-daun pada tanaman tersebut, kemudian
mengukur luas total daun tersebut dengan kertas milimeter/grafik, caranya
sebagai berikut:
·
Membuat pola masing-masing daun pada
kertas grafik.
·
Menghitung luas daun dengan ketentuan:
Apabila kurang dari ½ kotak dianggap nol, dan bila lebih dari ½ dianggap satu.
BAB
IV
DATA
DAN PEMBAHASAN
4.1.
Data
Tabel 1
|
No
|
Faktor
Lingkungan
|
Kondisi
Tempat
|
|
|
Terang
|
Gelap
|
||
|
1
|
Suhu
|
32
|
30
|
|
2
|
Kelembaban
|
64
%
|
76
%
|
|
3
|
Intensitas
cahaya
|
1540
|
000
|
Tabel 2
|
Massa
awal (gram)
|
Massa
Sesudah (gram)
|
||||||
|
Terang
|
Gelap
|
Terang
|
Gelap
|
||||
|
30’
|
30’’
|
30’’’
|
30’
|
30’’
|
30’’’
|
||
|
334,0
|
366,1
|
333,9
|
333,7
|
333,5
|
366,0
|
366,0
|
365,8
|
|
Selisih
Massa
|
Rata-rata
selisih massa (gram
|
||||||
|
Terang
|
Gelap
|
Terang
|
Gelap
|
||||
|
30’
|
30’’
|
30’’’
|
30’
|
30’’
|
30’’’
|
0,16
|
0,10
|
|
0,1
|
0,2
|
0,2
|
0,1
|
0,0
|
0,2
|
||
Tabel 3
|
|
Luas Daun
|
Jumlah Total (cm2)
|
|||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
||
|
Terang
|
17
|
15
|
20
|
20
|
22
|
20
|
17
|
10
|
7
|
11
|
159
|
|
Gelap
|
14
|
18
|
19
|
16
|
17
|
19
|
18
|
13
|
8
|
|
142
|
4.2.
Analisis
Pada percobaan mnegenai pengaruh cahaya
terhadap kecepatan transpirasi pada tanaman pacar air (impatien balsemia) dengan kondisi lingkungan gelap yang memiliki
nilai suhu 30ºC, nilai kelembabannya adalah 76 % dan intensitas cahaya yang
terjadi pada lingkungan tersebut adalah 0 Cd/m2 atau tidak ada
cahaya. Sedangkan pada kondisi terang memiliki suhu yang lebih tinggi yaitu sebesar 32ºC, nilai kelembabannya
adalah 64 % serta intensitas cahayanya adalah 1540 Cd/m2.
Massa
awal tanaman pacar air pada kondisi terang sebesar 334,0 gram sedangkan tanaman
yang diletakkan pada kondisi gelap sebesar 366,1 gram. Setelah 30 menit
pertama, kedua tanaman tersebut mengalami penurunan massa dimana pada kondisi
terang, massa tanaman menjadi 333,9 gram sedangkan pada kondisi gelap menjadi
366,0 gram. Setelah 30 menit kedua, tanaman pada kondisi terang mengalami
penurunan massa menjadi 333,7 gram sedangkan tanaman pada kondisi gelap masih
tetap yaitu 366,0 gram. Setelah 30 menit ketiga, tanaman pada kondisi terang
dan gelap mengalami penurunan yaitu 333,5 pada kondisi terang dan 365,8 pada
kondisi gelap.
Dari
data yang diperoleh dibuat selisih massa dari massa sebelumnya yaitu pada 30
menit pertama, pada kondisi terang dan gelap masing-masing memiliki selisih
massa sebesar 0,1 gram kemudian pada menit kedua, pada kondisi terang memiliki
selisih massa sebesar 0,2 gram sedangkan pada kondisi gelap sebesar 0,0 gram
(tidak adanya penurunan/kenaikan) kemudian pada 30 menit terakhir, pada kondisi
terang dan gelap memiliki selisih massa 0,2 gram. Jadi, rata-rata selisih massa
pada kondisi terang sebesar 0,16 gram sedangkan pada kondisi gelap sebesar 0,10
gram.
Adapun
luas daun yang berjumlah 10 buah pada kondisi terang yaitu 159 cm2
dari daun kesatu sampai kesepuluh masing-masing sebesar 17 cm2, 15
cm2,20 cm2,20 cm2, 22 cm2,20 cm2,17
cm2,10cm2 , 7 cm2,11
cm2.Adapun luas daun yang berjumlah 9 buah pada kondisi gelap yaitu
142 cm2 dari daun kesatu sampai kesepuluh masing-masing sebesar 14
cm2, 18 cm2,19 cm2,16 cm2,17 cm2,19
cm2,18 cm2,13 cm2 , 8 cm2.
4.3.
Pembahasan
Transpirasi dapat diartikan sebagai
proses kehilangan dalam bentuk uap dari jaringan, ini dapat saja terjadi pada tumbuhan
melalui stomata (Lakitan,2000). Transpirasi yang terjadi pada tanaman berfungsi
untuk mendinginkan suhu tanaman, mengurangi kelebihan air dan mempercepat
proses penyerapan unsur hara oleh akar tanaman. Proses transpirasi dapat
berlangsung secara optimal jika faktor-faktor yang mempengaruhi proses
transpirasi tersebut berada pada kondisi yang optimal pula. Faktor-faktor
transpirasi ini di antaranya cahaya, suhu, luas daun, jumlah stomata yang
dimiliki dan lain-lain. Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan,
kadar CO2, cahaya, suhu, aliran uadara, kelembaban, tersedianya air
tanah. Faktor-faktor ini mempengaruhi perilaku stomata yang membuka dan
menutup. Selama stomatama terbuka, terjadi pertukaran gas antara daun dengan
atmosfer dan air akan hilang ke dalam atmosfer (Inne, 2015)
Adapun vaseline dalam percobaan ini
berfungsi sebagai lapisan yang dapat memperlambat proses transpirasi, karena
semakin menebalnya permukaan maka uap air akan sulit keluar. Hal ini sesuai
dengan literature Salisbury dan Ross (1992) yang menyatakan bahwa adanya
lapisan lilin akan memperlambat laju transpirasi akibat tebalnya permukaan
sehingga uap air akan sulit berdifusi
keluar.
Berdasarkan dari analisis terhadap data
pengamatan, terjadi penurunan massa pada
erlenmeyer pertama yang diletakkan pada intensitas cahaya 1540 Cd/m2
rata-rata sebesar 0,16 gram dan erlenmeyer kedua yang diletakkan pada intensitas cahaya 0 Cd/m2 rata-rata sebesar 0,10 gram. Perubahan
berat ini mengindikasikan bahwa pada kedua tanaman pacar air (Impatiens balsamia) terjadi transpirasi
atau hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan tumbuhan karena proses
fisiologis tumbuhan seperti proses transpirasi. Perubahan berat ini dapat
diasumsikan akibat adanya transpirasi karena hanya kurang dari 1% persen air
diperlukan tanaman untuk proses pertumbuhan (Salisbury dan Ross, 1985).
Transpirasi pada intensitas cahaya terang 1540
Cd/m2, yakni sebesar 3,35 x 10-5 gram/menit/cm2 lebih
cepat daripada transpirasi pada intensitas cahaya 0 Cd/m2yang hanya
sebesar 2,25 x 10-5 gram/menit/cm2. Hal ini membuktikan
secara jelas bahwa intensitas cahaya berpengaruh terhadap kecepatan
transpirasi. Semakin besar intensitas cahaya, semakin tinggi kecepatan
transpirasi. Semakin rendah intensitas cahaya, semakin rendah kecepatan
transpirasi.
Intensitas cahaya mempengaruhi kecepatan
transpirasi karena mekanisme membuka menutupnya stomata, yaitu pori pada daun
yang menjadi tempat keluarnya air sebagai uap air pada proses transpirasi, juga
dipengaruhi oleh adanya cahaya. Sebagian besar stomata tumbuhan membuka pada
siang hari dan menutup pada malam hari. Berdasarkan teori fotosintesis, sel
penutup pada stomata memiliki kloroplas yang mengandung klorofil. Adanya
klorofil dan cahaya mengindikasikan bahwa
pada sel penutup berlangsung fotosintesis yang menghasilkan glukosa.
Glukosa terdapat dalam bentuk larut dalam cairan sel penutup. Berdasarkan
konsep difusi dan osmosis, apabila pada suatu sel terdapat banyak zat terlarut
(dalam kasus ini, yaitu glukosa), maka potensial air maupun potensial osmosis
menurun. Timbul tekanan turgor pada sel penutup akibat adanya zat terlarut,
sel-sel penutup membesar, sehingga membukalah stomata dan terjadilah proses transpirasi. (Putri, 2014)
Berdasarkan teori fotosintesis, jika tanaman
pacar air ini ditempatkan pada
intensitas cahaya tinggi sebesar 1540 Cd/m2, celah stomata akan
membuka lebar, sehingga proses
transpirasi berlangsung lebih cepat. Sebaliknya, saat intensitas cahaya rendah
yaitu sebesar 0 Cd/m2, celah stomata akan mengecil atau menutup sama
sekali, sehingga uap air yang dialirkan ke udara lebih sedikit atau dapat
dikatakan kecepatan transpirasi rendah, bahkan tidak berlangsung.
Hal ini juga berlaku untuk suhu, dimana
pada suhu 32ºC memiliki laju transpirasi yang lebih cepat dibandingkan suhu
30ºC, ini terjadi karena kenaikan suhu udara akan mempengaruhi kelembaban
relatifnya. Meningkatnya suhu pada siang hari biasanya akan menyebabkan
kelembaban relatif udara menjadi makin rendah begitupun sebaliknya. Ini didukung
dengan hasil percobaan kami dimana pada tempat yang bersuhu 32ºC memiliki nilai
kelembaban sebesar 64 % sedangkan pada tempat yang bersuhu 30ºC memiliki nilai
kelembaban sebesar 76%. Kelembaban yang rendah akan mengakibatkan perbedaan
tekanan uap air di dalam rongga daun dengan di uadara menjadi makin besar yang
akhirnya dapat meningkatkan kecepatan transpirasi begitupun sebaliknya ketika
kelembaban tinggi maka perbedaan tekanan uap air di dalam rongga daun dengan di
udara akan kecil maka kecepatan transpirasi berlangsung lambat. Ini didukung
dengan hasil pengamatan kami dimana pada suhu tinggi dengan kelembaban rendah
memiliki laju transpirasi yang lebih besar yaitu 3,35 x 10-5
gram/menit/cm2 dibandingkan pada suhu rendah dengan kelembaban
tinggi yang memiliki laju transpirasi sebesar 2,25 x 10-5
gram/menit/cm2.
Jumlah dan luas permukaan daun
mempengaruhi laju transpirasi. Makin luas daerah permukaan daun, makin besar
evapotranspirasi. (Gardner, et.al., 1991). Berdasarkan hasil pengamatan kami,
tanaman yang mempunyai luas permukaan daun 159 cm2 (pada kondisi
berintensitas cahaya 1540 Cd/m2) mempunyai laju transpirasi
yang lebih besar dibandingkan tanaman
yang mempunyai luas permukaan daun 149 cm2 (pada kondisi
berintensitas cahaya 0 Cd/m2). Pada permukaan daun yang lebih luas
memiliki kecepatan transpirasi lebih tinggi karena daun yang lebih luas
memiliki stomata yang lebih banyak sehingga penguapan air melalui stomata juga
lebih banyak begitupun sebaliknya pada luas daun yang lebih sempit maka jumlah
stomata lebih sedikit sehingga penguapan air juga lebih sedikit.
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil pengamatan, dibuat kesimpulan sebagai berikut :
Transpirasi merupakan proses
kehilangan dalam bentuk uap dari jaringan, yang dapat terjadi pada tumbuhan
melalui stomata. Transpirasi yang terjadi pada tanaman berfungsi untuk
mendinginkan suhu tanaman, mengurangi kelebihan air dan mempercepat proses
penyerapan unsur hara oleh akar tanaman. Proses transpirasi dapat berlangsung
secara optimal jika faktor-faktor yang mempengaruhi proses transpirasi tersebut
berada pada kondisi yang optimal pula. Faktor-faktor transpirasi ini di
antaranya cahaya, suhu, luas daun, jumlah stomata yang dimiliki dan lain-lain.
Intensitas cahaya mempengaruhi kecepatan transpirasi karena mekanisme membuka
menutupnya stomata, yaitu pori pada daun yang menjadi tempat keluarnya air
sebagai uap air pada proses transpirasi. Hasil pratikum kali ini yaitu transpirasi pada intensitas cahaya
terang 1540 Cd/m2, yakni sebesar 3,35 x 10-5
gram/menit/cm2 lebih cepat daripada transpirasi pada intensitas
cahaya 0 Cd/m2yang hanya sebesar 2,25 x 10-5
gram/menit/cm2. Hal ini membuktikan bahwa intensitas cahaya
berpengaruh terhadap kecepatan transpirasi. Semakin besar intensitas cahaya,
semakin tinggi kecepatan transpirasi. Semakin rendah intensitas cahaya, semakin
rendah kecepatan transpirasi.
DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro, D. 1980. Pengantar
Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Penerbit PT Gramedia
Gardner, F. P., R. B., Pearce dan R. L. Mitchell., 1991. Fisiologi
Tanamaman Budidaya. Erlangga, Jakarta.
Lakitan, B. 1993. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Loveless, A.R. 1991. Prinsip-prinsip
Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 1. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Salisbury,
F. B. & Ross, C. W. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing co, California.
Sari, Putri Mayang. 2014. Pengaruh Cahaya (Suhu) Terhadap Kecepatan Transpirasi. Surabaya :
UNESA
Soedirokoesoemo,
Wibisono. 1993. Materi Pokok Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan. Erlangga,
Jakarta.
Syafitri, Inne. 2015. Pengaruh Cahaya (Suhu) Terhadap Kecepatan Transpirasi
pada Tanaman Pacar Air .Surabaya : UNESA
Tjitrosomo, S.S. 1990. Botani Umum 2.
Bandung: Penerbit Angkasa
LAMPIRAN
PERHITUNGAN
Kecepatan
Transpirasi =
Rata-rata
selisih berat (gram) / waktu (menit)/ luas (cm2)
v Intensitas
cahaya tinggi (1540 Cd/m2)
Kecepatan
transpirasi = 0,16 gram/ 30 menit/ 159
cm2
=
0,0000335 gram/menit/cm2
=
3,35 x 10-5 gram/menit/cm2
v Intensitas
cahaya tinggi (0 Cd/m2)
Kecepatan
transpirasi = 0,10 gram/ 30 menit/ 142
cm2
=
0,0000235 gram/menit/cm2
=
2,35 x 10-5 gram/menit/cm2

Tidak ada komentar:
Posting Komentar