Kamis, 17 Desember 2015

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR, FUNGSI, DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN
Pengaruh Cahaya terhadap Kecepatan Transpirasi pada Tanaman Pacar Air (Impatien balsemia)




 


   Disusun oleh:
   Kelompok 3
                                       1. Dinda Maulida Azkiya Ilma            (13030654050)
                                       2. Nur Jannatin                                       (13030654060)
                                       3. Fidya Amelia                                       (13030654061)
                                       4. Moh. Sholahuddin Ghozali              (13030654068)
                                       5. Winda Nur Ainun                               (13030654081)


Pendidikan IPA B 2013



PROGRAM STUDI S-1 PENDIDIKAN IPA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2015





ABSTRAK

Percobaan transpirasi bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap kecepatan transpirasi dengan metode penimbangan. Metode percobaan ini dilakukan dengan metode penimbangan labu erlenmeyer yang berisi tanaman baik sebelum dan sesudah diberi perlakuan yang kemudian daun – daun tanaman diambil, diletakkan pada kertas grafik, menggambar pola daun, dan menghitung luas daun tersebut. Variabel manipulasi dari percobaan ini adalah intensitas cahaya. Intensitas cahaya yang dimaksud adalah tempat gelap dan terang (terletak dengan jarak 20 cm dari lampu pijar 100 watt). Untuk variabel yang dibuat sama adalah panjang tanaman 20 cm dari pucuk batang, jenis tanaman pacar air, dan volume air dalam tabung erlenmeyer sebanyak 200 ml. Dan untuk variabel respon dari percobaan ini merupakan kecepatan respirasi gram per menit/ cm.  Hasil percobaan menunjukan bahwa terjadi  penurunan massa pada erlenmeyer pertama yang diletakkan pada intensitas cahaya 1540 Cd/m2 rata-rata sebesar 0,16 gram dan erlenmeyer kedua yang diletakkan  pada intensitas cahaya 0 Cd/m2  rata-rata sebesar 0,10 gram. Perubahan berat ini mengindikasikan bahwa pada kedua tanaman pacar air (Impatiens balsemia) terjadi transpirasi atau hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan tumbuhan karena proses fisiologis tumbuhan seperti proses transpirasi.
Kata kunci : transpirasi, intensitas cahaya




BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
         Sel hidup tumbuhan berhubungan langsung dengan atmosfer melalui stomata dan lenti sel sehingga transpirasi terjadi melalui kutikula pada daun tumbuh-tumbuhan. Sel-sel hidup itu berada dalam keadaan turgid dan sedang dan sedang bertranspirasi dilapisi oleh lapisan tipis air yang diperoleh dari dalam sel. Sebalikya, persediaan air ini diperoleh dengan cara translokasi air dan unsur-unsur penghantar dari akar melalui xilem. Akar-akar pohon tersebut memperoleh air dengan cara mengabsorpsi melalui permukaan yang berhubungan dengan air di dalam tanah. Seluruh proses ini digerakkan oleh energi yang diberikan pada daun dan batang-batang pada tanaman tersebut  (Wanggai,Frans. 91: 2007).
         Tumbuhan, seperti juga hewan memiliki adaptasi evolusioner dalam bentuk respons fisiologis terhadap perubahan jangka  pendek. Misalnya jika daun pada tumbuhan mengalami kekurangan air, daun-daun akan menutup stomata, yang merupakan lubang kecil dipermukaan daun tersebut. Respons darurat ini akan membantu tumbuhan menghemat air dengan cara mengurangi transpirasi, yaitu hilangnya air dari daun melalui penguapan (Campbell.N.A,292:2000)
         Dalam kehidupan sehari- hari , kita tanpa sadar menyadari bahwa tumbuhan melakukan proses transpirasi . Transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan lentisel.80% air yang ditranspirasikan berjalan melewati lubang stomata, paling besar peranannya dalam  transpirasi.Transpirasi berperan di dalam pengangkutan air ke daun dan difusi air antar sel, penyerapan dan pengangkutan air dan zat  hara, pengangkutan asimilat, membuang kelebihan air, pengaturan bukaan stomata dan mempertahankan suhu daun. Transpirasi di pengaruhi oleh beberapa faktor ,yaitu faktor internal dan eksternal. Oleh karena itu, dalam praktikum ini kami mencoba apa saja pengaruh lingkungan terhadap proses transpirasi.

1.2          Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, didapatkan rumusan masalah dari percobaan yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
Bagaimana pengaruh lingkungan terhadap kecepatan transpirasi dengan metode penimbangan?

1.3          Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari percobaan yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap kecepatan transpirasi dengan metode penimbangan.




BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Transpirasi
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata, kutikula dan lentisel . Kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangna tersebut sangat kecil dibanding dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata. Transpirasi merupakan bagian dari siklus air, dan itu adalah hilangnya uap air dari bagian tanaman (mirip dengan berkeringat), terutama pada daun tetapi juga di batang, bunga dan akar. Permukaan daun yang dihiasi dengan bukaan yang secara kolektif disebut stomata, dan dalam kebanyakan tanaman mereka lebih banyak pada sisi bawah dedaunan. Transpirasi juga dapat mendinginkan tanaman dan memungkinkan aliran massa nutrisi mineral dan air dari akar ke tunas. Aliran massa air dari akar ke daun disebabkan oleh penurunan hidrostatik (air) tekanan di bagian atas dari tumbuhan karena difusi air dari stomata ke atmosfer. Air diserap pada akar dengan osmosis, dan semua nutrisi mineral dilarutkan perjalanan dengan melalui xilem.
Tingkat transpirasi secara langsung berkaitan dengan partikel penguapan air dari permukaan tanaman, terutama dari bukaan permukaan, atau stomates, pada daun. Stomata untuk sebagian besar kehilangan air oleh tanaman, tetapi beberapa penguapan langsung juga terjadi melalui permukaan sel-sel epidermis daun. Transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui stomata dapat melalui kutikula walaupun hanya 5-10% dari jumlah air yang ditranspirasikan di daerah beriklim sedang. Air sebagian besar menguap melalui stomata,sehingga jumlah dan bentuk stomata sangat mempengaruhi laju transpirasi.
Hanya 1-2% dari seluruh air yang ada dalam tubuh tumbuhan digunakan  dalam fotosintesis atau dalam kegiatan metabolic sel-sel daunnya. Sisanya menguap dari daun dalam proses transpirasi. Bila stomata terbuka, uap air ke luar dari daun. Jika daun itu harus terus berfungsi dengan baik maka air segar harus disediakan kepada daun untuk menggantikan yang hilang pada waktu transpirasi.
Proses transpirasi akan menyebabkan potensial air lebih rendah dibandingkan batang ataupun akar. Akibatnya, daun seolah-olah menghisap air dari akar.
Untuk menguapkan air, tumbuhan butuh energy baru atau berubah energy menjadi panas. Dengan demikian, transpirasi menimbulkan pengaruh pendinginan pada daun. Kebutuhan panas untuk menguapkan air berasal dari sinar matahari yang disalurkan melalui cahaya langsung, radiasi dan konveksi. Air merupakan bagian terbesar dari jaringan tumbuhan, semua proses tumbuh dan berkembang terjadi karena adanya air.
Ada tiga jenis transpirasi, yaitu :
1.      Transpirasi Kutikula.
Adalah evaporasi air yang tejadi secara langsung melalui kutikula epidermis. Kutikula daun secara relatif tidak tembus air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar 10%. Oleh karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi melaui stomata. 
2.      Transpirasi Stomata
Sel-sel mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut terdapat ruang-ruang udara yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel mesofil yang jenuh air. Air menguap dari dinding-dinding basah ini ke ruang-ruang antar sel, dan uap air kemudian berdifusi melalui stomata dari ruang-ruang antar sel ke athmosfer di luar. Sehingga dalam kondisi normal evaporasi membuat ruang-ruang itu selali jenuh uap air. Asalkan stomata terbuka, difusi uap air ke athmosfer pasti terjadi kecuali bila atmosfer itu sendiri sama-sama lembap.
3.      Transpirasi Lentisel
Yaitu pada daerah kulit kayu yang berisi sel-sel. Uap air yang hilang melalui jaringan ini adalah 0,1%
2.2 Pengukuran Transpirasi
Pengukuran laju transpirasi tidaklah terlalu mudah dilakukan. Kesulitan utamanya adalah karena semua cara pengukuran traspirasi mengharuskan penempatan suatu tumbuhan dalam berbagai kondisi yang mempengaruhi laju transpirasi. Ada empat cara laboratorium untuk menaksir laju transpirasi:
1.      Kertas korbal klorida
         Pada dasarnya cara ini adalah pengukuran uap air yang hilang ke udara yang diganti dengan pengukuran uap airyang hilang ke dalam kertas kobal klorida kering. Kertas ini berwarna biru cerah dan tetapi menjadi biru pucat dan kemudian berubah menjadi merah jambu bila menyerap air. Sehelai kecil kertas biru cerah ditempelkan pada permukaan daun dan ditutup dengan gelas preparat. Demikian juga bagian bawah daun. Waktu yang diperlukan untuk mengubah warna biru kertas menjadi merah jambu dijadikan ukuran laju kehilangan air dari bagian daun yang ditutup kertas.
2.      Potometer
         Alat ini mengukur pengambilan air oleh sebuah potongan pucuk, denga asumsi bahwa bila air tersedia dengan bebas untuk tumbuhan, jumlah air yang diambil sama dengan jumlah air yang dikeluarkan oleh transpirasi.
3.      Pengumpulan uap air yang ditranspirasi
         Cara ini mengharuskan tumbuahn atau bagian tumbuhan dikurung dalam sebuah bejana tembus cahaya sehingga uap air yang ditranspirasikan dapat dipisahkan.
4.      Penimbangan langsung
         Pengukuran transpirasi yang paling memuaskan diperoleh dari tumbuhan yang tumbuh dalam pot yang telah diatur sedemikan rupa sehingga evaporasi dari pot dan permukaan tanah dapat dicegah. Kehilangan air dari tumbuhan ini dapat ditaksir untukjangka waktu tertentu dengan penimbangan langsung.
2.3    Faktor yang mempengaruhi Transpirasi
Ø Faktor dalam adalah:
1.        Penutupan stomata: Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air tetapi peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit untuk mesing-mesing satuan penambahan lebar stomata Faktor utama yang mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya dan kelembapan.
2.        Jumlah dan ukuran stomata: Jumlah dan ukuran stomata, dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada pembukaan dan penutupan stomata.
3.        Jumlah daun: Makin luas daerah permukaan daun, makin besar transpirasi.
4.        Penggulungan atau pelipatan daun: Banyak tanaman mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan air terbatas.
5.        Kedalaman dan proliferasi akar: Ketersedian dan pengambilan kelembapan tanah oleh tanaman budidaya sangat tergantung pada kedalaman dan proliferasi akar. Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air, dari proliferasi akar (akar per satuan volume tanah ) meningkatkan pengambilan air dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan permanen.
Ø Faktor luar adalah:
1.      Sinar matahari: Seperti yang telah dibicarakan didepan, maka sinar menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan tertutupnya stoma, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi. Karena sinar itu juga mengandung panas (terutama sinar infra-merah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikian menaikkan tempratur. Kenaikan tempratur sampai pada suatu batas yang tertentu menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar transpirasi.
2.      Temperatur: Merupakan faktor lingkungan yang terpenting yang mempengaruhi transpirasi daun yang ada dalam keadaan turgor. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang kena sinar matahari mempunyai suhu 10o -20o F lebih tinggi daripada suhu udara. Pengaruh tempratur terhadap transpirasi daun dapat pula ditinjau dari sudut lain, yaitu didalam hubungannya dengan tekanan uap air di dalam daun dan tekanan uap air di luar daun. Kenaikan temperatur menambah tekanan uap di dalam daun. Kenaikan tempratur itu sudah barang tentu juga menambah tekanan uap di luar daun, akan tetapi berhubung udara di luar daun itu tidak di dalam ruang yang terbatas, maka tekanan uap tiada akan setinggi tekanan uap yang terkurung didalam daun. Akibat dari pada perbedaan tekanan ini, maka uap air akan mudah berdifusi dari dalam daun ke udara bebas.
3.      Kebasahan udara (Kelembaban udara): Pada hari cerah udara tidak banyak mengandung uap air. Di dalam keadaan yang demikian itu, tekanan uap di dalam daun jauh lebih lebih tinggi dari pada tekanan uap di luar daun, atau dengan kata lain, ruang di dalam daun itu lebih kenyang akan uap air daripada udara di luar daun, jadi molekul-molekul air berdifusi dari konsentrasi tinggi (di dalam daun) ke konsentrasi yang rendah (di luar daun. Kesimpulannya ialah, udara yang basah menghambat transpirasi, sedang udara kering melancarkan transpirasi. Pada kondisi alamiah, udara selalu mengandung uap air, biasanya dengan konsentrasi antara 1 sampai 3 persen. Sebagian dari molekul air tersebut bergerak ke dalam daun melalui stomata dengan proses kebalikan transpirasi. Laju gerak masuknya molekul uap air tersebut berbanding dengan konsentrasi uap air udara, yaitu kelembaban. Gerakan uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang hilang. Dengan demikian, seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun dengan meningkatnya kelembaban udara.
4.      Angin: Pada umumnya angin yang sedang, menambah kegiatan transpirasi. Karena angin membawa pindah uap air yang bertimbun-timbun dekat stoma. Dengan demikian, maka uap yang masih ada di dalam daun kemudian mendapat kesempatan untuk difusi ke luar . Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa angin cenderung untuk meningkatkan laju transpirasi, baik di dalam naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan tetapi, di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian terhadap penurunan laju transpirasi, cenderung lebih penting daripada pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air.Dalam udara yang sangat tenang suatu lapisan tipis udara jenuh terbentuk di sekitar permukaan daun yang lebih aktif bertranspirasi. Jika udara secara keseluruhan tidak jenuh, maka akan terdapat gradasi konsentrasi uap air dari lapisan udara jenuh tersebut ke udara yang semakin jauh semakin tidak jenuh. Dalam kondisi seperti itu transpirasi terhenti karena lapisan udara jenuh bertindak sebagai penghambat difusi uap air ke udara di sekitar permukaan daun. Oleh karena itu, dalam udara yang tenang terdapat dua tahanan yang harus ditanggulangi uap air untuk berdifusi dari ruang-ruang antar sel ke udara luar. Yang pertama adalah tahanan yang harus dilalui pada lubang-lubang stomata, dan yang kedua adalah tahanan yang ada dalam lapisan udara jenuh yang berdampingan dengan permukaan daun. Oleh karena itu dalam udara yang bergerak, besarnya lubang stomata mempunyai pengaruh lebih besar terhadap transpirasi daripada dalam udara tenang. Namun, pengaruh angin sebenarnya lebih kompleks daripada uraian tadi karena kecendrungannya untuk meningkatkan laju transpirasi sampai tahap tertentu dikacaukan oleh kecendrungan untuk mendinginkan daun-daun sehingga mengurangi laju transpirasi. Tetapi efek angin secara keseluruhan adalah selalu meningkatkan transpirasi.
5.      Keadaan air dalam tanah: Air di dalam tanah ialah satu-satunya suber yang pokok, dari mana akar-akar tanaman mendapatkan air yang dibutuhkannya. Absorpsi air lewat bagian-bagian lain yang ada di atas tanah seperti batang dan daun juga ada, akan tetapi pemasukan air lewat bagian-bagian itu tiada seberapa kalau dibanding dengan penyerapan air melalui akar.Tersedianya air dalam tanah adalah faktor lingkungan lain yang mempengaruhi laju transpirasi. Bila kondisi air tanah sedemikian sehingga penyediaan air ke sel-sel mesofil terhambat, penurunan laju transpirasi akan segera tampak. Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan laju absorbsi air dari akar. Pada siang hari, biasanya air ditranspirasikan dengan laju yang lebih cepat daripada penyerapannya dari tanah. Hal tersebut menimbulkan defisit air dalam daun. Pada malam hari akan terjadi kondisi yang sebaliknya, karena suhu udara dan suhu daun lebih rendah. Jika kandungan air tanah menurun, sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lebih lambat.
2.4    Mekanisme Transpirasi
              Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel sel mesofil ke rongga antar sel yang ada dalam daun. Dalam hal ini rongga antar sel jaringan bunga karang merupakan rongga yang besar, sehingga dapat menampung uap air dalam jumlah banyak. Penguapan air ke rongga antar sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air.
              Sel-sel yang menguapkan airnya kerongga antar sel, tentu akan mengalami kekurangan air sehingga potensial airnya menurun. Kekurangan ini akan diisi oleh air yang berasal dari xilem tulang daun, yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima dari akar dan seterusnya. Uap air yang terkumpul dalam ronga antara sel akan tetap berada dalam rongga antar sel tersebut, selama stomata pada epidermis daun tidak membuka. Aapabila stomata membuka, maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfer kalau tekanan uap air di atmosfer lebih rendah dari rongga antar sel maka uap air dari rongga antar sel akan keluar ke atmosfer dan prosesnya disebut transpirasi. Jadi syarat utama untuk berlangsungnya transpirasi adalah adanya penguapan air didalam daun dan terbukanya stomata.





BAB III
METODE PENELITIAN


3.1.  Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam praktikum Transpirasi adalah percobaan atau eksperimen. Hal ini dikarenakan dalam praktikum menggunakan variabel yang dapat dimanipulasi.

3.2.  Waktu dan Tempat Penelitian
1.      Waktu Pelaksanaan Praktikum
a.    Hari           : Selasa
b.   Tanggal     : 12 Mei 2015
c.    Waktu       : pukul 15.00 – 17.00 WIB
2.        Tempat Pelaksanaan : Laboratorium Sains FMIPA UNESA Ketintang, Surabaya

3.3.  Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
a.       Erlenmeyer 250 ml                                                             2 buah
b.      Sumbat erlenmeyer dengan lubang di tengahnya               2 buah
c.       Timbangan                                                                          1 buah
d.      Termometer, higrometer                                                     1 buah
e.       Lux meter                                                                           1 buah
f.       Bohlam lampu 100 watt                                                     1 buah
g.      Lampu duduk                                                                     1 buah
h.      Pisau tajam                                                                         1 buah
i.        Penggaris                                                                            1 buah
j.        Kamera                                                                               1 buah
2. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
a.       Air                                                                                      Secukupnya
b.      Vaselin                                                                                Secukupnya
c.       Kertas grafik/milimeter                                                       1 lembar
d.      Tanaman Pacar air (Impatien balsemia) yang                   2 pucuk
memiliki kondisi hampir sama sepanjang 20 cm    


3.4.  Variabel Pecobaan
a)      Variabel Manipulasi            : Perlakuan lingkungan tanaman Pacar Air
Definisi Operasional            : Perlakuan lingkungan tanaman Pacar Air yang dilakukan pada erlenmeyer 1 yaitu diletakkan di dalam ruangan dan erlenmeyer 2 pada tempat dengan jarak 20 cm dari lampu pijar 100 watt.
b)      VariabelRespon                  : Kondisi lingkungan, Massa, dan Luas total
daun
Definisi Operasional            : Kondisi lingkungan kedua tempat tersebut meliputi suhu, intensitas cahaya dan kelembaban. Massa  erlenmeyer beserta perlengkapannya diukur setiap 30 menit dengan menggunakan timbangan. Luas total daun diukur dengan membuat pola masing-masing daun pada kertas grafik/milimeter setelah penimbangan terakhir.
c)      Variabel Kontrol                 : Jenis tanaman Pacar Air, Volume air, dan
                                             Lama Perlakuan
Definisi Operasional           : Menggunakan jenis tanaman Pacar Air yang sama untuk   setiap percobaan. Menggunakan volume air yang sama untuk setiap percobaan pada erlenmeyer yaitu 150 mL. Serta lama perlakuan yang juga sama dengan lama percobaan diukur setiap 30 menit sebanyak 3 kali sehingga lama perlakuan berlangsung selama 1,5 jam.

3.5.  Langkah Kerja :
1.      Menyiapkan bahan dan alat yang diperlukan.
2.      Menyediakan 2 buah erlenmeyer, Mengisi dengan air volume 150 ml.
3.  Memotong  miring pangkal pucuk batang tanaman pacar air dalam air, dan segera memasukkan potongan tanaman tersebut pada tabung erlenmeyer melalui lubang pada sumbat sampai bagian bawahnya terendam air. Membuang bunga, kuncup, daun yang rusak dan mengolesi luka dengan vaselin. Demikian pula mengolesi celah-celah yang ada dengan vaselin (misalnya sekitar sumbat penutup).
4.  Menimbang kedua erlenmeyer tersebut lengkap dengan tanaman dan air yang ada di dalamnya dan catat.
5.  Meletakkan erlenmeyer 1 di dalam ruangan dan erlenmeyer 2 pada tempat dengan jarak 20 cm dari lampu pijar 100 watt. Mengukur kondisi lingkungan kedua tempat tersebut meliputi suhu, intensitas cahaya dan kelembaban.
6.  Setiap 30 menit menimbang erlenmeyer beserta perlengkapannya dan catat.
7.  Mengulangi pengukuran sebanyak 3 kali.
8.  Setelah penimbangan terakhir, mengambil daun-daun pada tanaman tersebut, kemudian mengukur luas total daun tersebut dengan kertas milimeter/grafik, caranya sebagai berikut:
·         Membuat pola masing-masing daun pada kertas grafik.
·         Menghitung luas daun dengan ketentuan: Apabila kurang dari ½ kotak dianggap nol, dan bila lebih dari ½ dianggap satu.


 



BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
4.1. Data
Tabel 1
No
Faktor Lingkungan
Kondisi Tempat
Terang
Gelap
1
Suhu
32
30
2
Kelembaban
64 %
76 %
3
Intensitas cahaya
1540
000
Tabel 2
Massa awal (gram)
Massa Sesudah (gram)
Terang
Gelap
Terang
Gelap
30’
30’’
30’’’
30’
30’’
30’’’
334,0
366,1
333,9
333,7
333,5
366,0
366,0
365,8

Selisih Massa
Rata-rata selisih massa (gram
Terang
Gelap
Terang
Gelap
30’
30’’
30’’’
30’
30’’
30’’’
0,16
0,10
0,1
0,2
0,2
0,1
0,0
0,2
Tabel 3

Luas Daun
Jumlah Total (cm2)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Terang
17
15
20
20
22
20
17
10
7
11
159
Gelap
14
18
19
16
17
19
18
13
8

142



4.2. Analisis
Pada percobaan mnegenai pengaruh cahaya terhadap kecepatan transpirasi pada tanaman pacar air (impatien balsemia) dengan kondisi lingkungan gelap yang memiliki nilai suhu 30ºC, nilai kelembabannya adalah 76 % dan intensitas cahaya yang terjadi pada lingkungan tersebut adalah 0 Cd/m2 atau tidak ada cahaya. Sedangkan pada kondisi terang memiliki suhu yang lebih tinggi  yaitu sebesar 32ºC, nilai kelembabannya adalah 64 % serta intensitas cahayanya adalah 1540 Cd/m2.
                        Massa awal tanaman pacar air pada kondisi terang sebesar 334,0 gram sedangkan tanaman yang diletakkan pada kondisi gelap sebesar 366,1 gram. Setelah 30 menit pertama, kedua tanaman tersebut mengalami penurunan massa dimana pada kondisi terang, massa tanaman menjadi 333,9 gram sedangkan pada kondisi gelap menjadi 366,0 gram. Setelah 30 menit kedua, tanaman pada kondisi terang mengalami penurunan massa menjadi 333,7 gram sedangkan tanaman pada kondisi gelap masih tetap yaitu 366,0 gram. Setelah 30 menit ketiga, tanaman pada kondisi terang dan gelap mengalami penurunan yaitu 333,5 pada kondisi terang dan 365,8 pada kondisi gelap.
                        Dari data yang diperoleh dibuat selisih massa dari massa sebelumnya yaitu pada 30 menit pertama, pada kondisi terang dan gelap masing-masing memiliki selisih massa sebesar 0,1 gram kemudian pada menit kedua, pada kondisi terang memiliki selisih massa sebesar 0,2 gram sedangkan pada kondisi gelap sebesar 0,0 gram (tidak adanya penurunan/kenaikan) kemudian pada 30 menit terakhir, pada kondisi terang dan gelap memiliki selisih massa 0,2 gram. Jadi, rata-rata selisih massa pada kondisi terang sebesar 0,16 gram sedangkan pada kondisi gelap sebesar 0,10 gram.
                        Adapun luas daun yang berjumlah 10 buah pada kondisi terang yaitu 159 cm2 dari daun kesatu sampai kesepuluh masing-masing sebesar 17 cm2, 15 cm2,20 cm2,20 cm2, 22 cm2,20 cm2,17 cm2,10cm2 ,  7 cm2,11 cm2.Adapun luas daun yang berjumlah 9 buah pada kondisi gelap yaitu 142 cm2 dari daun kesatu sampai kesepuluh masing-masing sebesar 14 cm2, 18 cm2,19 cm2,16 cm2,17 cm2,19 cm2,18 cm2,13 cm2 ,  8 cm2.
4.3. Pembahasan
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan dalam bentuk uap dari jaringan, ini dapat saja terjadi pada tumbuhan melalui stomata (Lakitan,2000). Transpirasi yang terjadi pada tanaman berfungsi untuk mendinginkan suhu tanaman, mengurangi kelebihan air dan mempercepat proses penyerapan unsur hara oleh akar tanaman. Proses transpirasi dapat berlangsung secara optimal jika faktor-faktor yang mempengaruhi proses transpirasi tersebut berada pada kondisi yang optimal pula. Faktor-faktor transpirasi ini di antaranya cahaya, suhu, luas daun, jumlah stomata yang dimiliki dan lain-lain. Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan, kadar CO2, cahaya, suhu, aliran uadara, kelembaban, tersedianya air tanah. Faktor-faktor ini mempengaruhi perilaku stomata yang membuka dan menutup. Selama stomatama terbuka, terjadi pertukaran gas antara daun dengan atmosfer dan air akan hilang ke dalam atmosfer (Inne, 2015)
Adapun vaseline dalam percobaan ini berfungsi sebagai lapisan yang dapat memperlambat proses transpirasi, karena semakin menebalnya permukaan maka uap air akan sulit keluar. Hal ini sesuai dengan literature Salisbury dan Ross (1992) yang menyatakan bahwa adanya lapisan lilin akan memperlambat laju transpirasi akibat tebalnya permukaan sehingga uap air akan sulit  berdifusi keluar.
Berdasarkan dari analisis terhadap data pengamatan, terjadi  penurunan massa pada erlenmeyer pertama yang diletakkan pada intensitas cahaya 1540 Cd/m2 rata-rata sebesar 0,16 gram dan erlenmeyer kedua yang diletakkan  pada intensitas cahaya 0 Cd/m2  rata-rata sebesar 0,10 gram. Perubahan berat ini mengindikasikan bahwa pada kedua tanaman pacar air (Impatiens balsamia) terjadi transpirasi atau hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan tumbuhan karena proses fisiologis tumbuhan seperti proses transpirasi. Perubahan berat ini dapat diasumsikan akibat adanya transpirasi karena hanya kurang dari 1% persen air diperlukan tanaman untuk proses pertumbuhan (Salisbury dan Ross, 1985).
 Transpirasi pada intensitas cahaya terang 1540 Cd/m2, yakni sebesar 3,35 x 10-5 gram/menit/cm2 lebih cepat daripada transpirasi pada intensitas cahaya 0 Cd/m2yang hanya sebesar 2,25 x 10-5 gram/menit/cm2. Hal ini membuktikan secara jelas bahwa intensitas cahaya berpengaruh terhadap kecepatan transpirasi. Semakin besar intensitas cahaya, semakin tinggi kecepatan transpirasi. Semakin rendah intensitas cahaya, semakin rendah kecepatan transpirasi.
Intensitas cahaya mempengaruhi kecepatan transpirasi karena mekanisme membuka menutupnya stomata, yaitu pori pada daun yang menjadi tempat keluarnya air sebagai uap air pada proses transpirasi, juga dipengaruhi oleh adanya cahaya. Sebagian besar stomata tumbuhan membuka pada siang hari dan menutup pada malam hari. Berdasarkan teori fotosintesis, sel penutup pada stomata memiliki kloroplas yang mengandung klorofil. Adanya klorofil dan cahaya mengindikasikan bahwa  pada sel penutup berlangsung fotosintesis yang menghasilkan glukosa. Glukosa terdapat dalam bentuk larut dalam cairan sel penutup. Berdasarkan konsep difusi dan osmosis, apabila pada suatu sel terdapat banyak zat terlarut (dalam kasus ini, yaitu glukosa), maka potensial air maupun potensial osmosis menurun. Timbul tekanan turgor pada sel penutup akibat adanya zat terlarut, sel-sel penutup membesar, sehingga membukalah stomata dan terjadilah  proses transpirasi. (Putri, 2014)
Berdasarkan teori fotosintesis, jika tanaman pacar air ini ditempatkan  pada intensitas cahaya tinggi sebesar 1540 Cd/m2, celah stomata akan membuka lebar, sehingga  proses transpirasi berlangsung lebih cepat. Sebaliknya, saat intensitas cahaya rendah yaitu sebesar 0 Cd/m2, celah stomata akan mengecil atau menutup sama sekali, sehingga uap air yang dialirkan ke udara lebih sedikit atau dapat dikatakan kecepatan transpirasi rendah, bahkan tidak berlangsung.
Hal ini juga berlaku untuk suhu, dimana pada suhu 32ºC memiliki laju transpirasi yang lebih cepat dibandingkan suhu 30ºC, ini terjadi karena kenaikan suhu udara akan mempengaruhi kelembaban relatifnya. Meningkatnya suhu pada siang hari biasanya akan menyebabkan kelembaban relatif udara menjadi makin rendah begitupun sebaliknya. Ini didukung dengan hasil percobaan kami dimana pada tempat yang bersuhu 32ºC memiliki nilai kelembaban sebesar 64 % sedangkan pada tempat yang bersuhu 30ºC memiliki nilai kelembaban sebesar 76%. Kelembaban yang rendah akan mengakibatkan perbedaan tekanan uap air di dalam rongga daun dengan di uadara menjadi makin besar yang akhirnya dapat meningkatkan kecepatan transpirasi begitupun sebaliknya ketika kelembaban tinggi maka perbedaan tekanan uap air di dalam rongga daun dengan di udara akan kecil maka kecepatan transpirasi berlangsung lambat. Ini didukung dengan hasil pengamatan kami dimana pada suhu tinggi dengan kelembaban rendah memiliki laju transpirasi yang lebih besar yaitu 3,35 x 10-5 gram/menit/cm2 dibandingkan pada suhu rendah dengan kelembaban tinggi yang memiliki laju transpirasi sebesar 2,25 x 10-5 gram/menit/cm2.
Jumlah dan luas permukaan daun mempengaruhi laju transpirasi. Makin luas daerah permukaan daun, makin besar evapotranspirasi. (Gardner, et.al., 1991). Berdasarkan hasil pengamatan kami, tanaman yang mempunyai luas permukaan daun 159 cm2 (pada kondisi berintensitas cahaya 1540 Cd/m2) mempunyai laju transpirasi yang  lebih besar dibandingkan tanaman yang mempunyai luas permukaan daun 149 cm2 (pada kondisi berintensitas cahaya 0 Cd/m2). Pada permukaan daun yang lebih luas memiliki kecepatan transpirasi lebih tinggi karena daun yang lebih luas memiliki stomata yang lebih banyak sehingga penguapan air melalui stomata juga lebih banyak begitupun sebaliknya pada luas daun yang lebih sempit maka jumlah stomata lebih sedikit sehingga penguapan air juga lebih sedikit.
















BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, dibuat kesimpulan sebagai berikut :
Transpirasi merupakan proses kehilangan dalam bentuk uap dari jaringan, yang dapat terjadi pada tumbuhan melalui stomata. Transpirasi yang terjadi pada tanaman berfungsi untuk mendinginkan suhu tanaman, mengurangi kelebihan air dan mempercepat proses penyerapan unsur hara oleh akar tanaman. Proses transpirasi dapat berlangsung secara optimal jika faktor-faktor yang mempengaruhi proses transpirasi tersebut berada pada kondisi yang optimal pula. Faktor-faktor transpirasi ini di antaranya cahaya, suhu, luas daun, jumlah stomata yang dimiliki dan lain-lain. Intensitas cahaya mempengaruhi kecepatan transpirasi karena mekanisme membuka menutupnya stomata, yaitu pori pada daun yang menjadi tempat keluarnya air sebagai uap air pada proses transpirasi. Hasil pratikum kali ini yaitu transpirasi pada intensitas cahaya terang 1540 Cd/m2, yakni sebesar 3,35 x 10-5 gram/menit/cm2 lebih cepat daripada transpirasi pada intensitas cahaya 0 Cd/m2yang hanya sebesar 2,25 x 10-5 gram/menit/cm2. Hal ini membuktikan bahwa intensitas cahaya berpengaruh terhadap kecepatan transpirasi. Semakin besar intensitas cahaya, semakin tinggi kecepatan transpirasi. Semakin rendah intensitas cahaya, semakin rendah kecepatan transpirasi.








DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro, D. 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Penerbit PT Gramedia
Gardner, F. P., R. B., Pearce dan R. L. Mitchell., 1991. Fisiologi Tanamaman Budidaya.           Erlangga, Jakarta.
Lakitan, B. 1993. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Loveless, A.R. 1991. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 1. Jakarta:           Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Salisbury, F. B. & Ross, C. W. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing co, California.
Sari, Putri Mayang. 2014. Pengaruh Cahaya (Suhu) Terhadap Kecepatan Transpirasi. Surabaya : UNESA
Soedirokoesoemo, Wibisono. 1993. Materi Pokok Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan.     Erlangga, Jakarta.
Syafitri, Inne. 2015. Pengaruh Cahaya (Suhu) Terhadap Kecepatan Transpirasi pada Tanaman Pacar Air .Surabaya : UNESA
Tjitrosomo, S.S. 1990. Botani Umum 2. Bandung: Penerbit Angkasa





LAMPIRAN PERHITUNGAN


Kecepatan Transpirasi =
Rata-rata selisih berat (gram) / waktu (menit)/ luas (cm2)

v Intensitas cahaya tinggi (1540 Cd/m2)
Kecepatan transpirasi    = 0,16 gram/ 30 menit/ 159 cm2
                                                   = 0,0000335 gram/menit/cm2
                                                   = 3,35 x 10-5 gram/menit/cm2


v Intensitas cahaya tinggi (0 Cd/m2)
Kecepatan transpirasi    = 0,10 gram/ 30 menit/ 142 cm2
                                                   = 0,0000235 gram/menit/cm2
                                                   = 2,35 x 10-5 gram/menit/cm2


Tidak ada komentar:

Posting Komentar