Kamis, 17 Desember 2015

Oleh : Merliana.tumblr



----SURAT CINTA DARI LANGIT ----

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh ..
   Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam yang telah mempertemukan dan menyatukan kita karena iman. Dalam dekapan ukhuwah kita ambil cinta dari langit lalu menebarkannya di bumi. Menautkan kita pada sinergi illahi, membentangkan sayap untuk menjadi pribadi yang berarti.
        Syukron katsir telah berkenan membaca surat ini dan sebelumnya afwan telah mecuri sebagian cinta-Nya yang mungkin sedang kau khusyu’kan pada-Nya saat ini.
Telah datang bisikan kebaikan yang baiknya saya sampaikan kepada teman-teman. Ini sebuah kabar gembira. Baru saja saya membaca surat cinta-Nya yang begitu bermakna, dimana isinya berkenaan mengenai kabar kita.
         Sebelum memberitakannya, bolehkah saya sedikit merefleksi diri?
UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam) merupakan salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang bergerak di bidang kerohanian dan syiar Islam. Ini adalah sebuah organisasi yang akan mencetak kader-kader Islam yang militan, intelek, juga berakhlak mulia sesuai tuntunan Alquran dan As Sunah.  Itu yang saya tahu, right?
       Ketika tersebut organisasi dalam dunia perguruan tinggi maka berhubungan juga dengan yang namanya pergerakan mahasiswa. Sudah famous sekali yang namanya pergerakan mahasiswa , hal ini tentu dikaitkan dengan organisasi mahasiswa, yang biasa disebut ORMAWA. Saya yakin teman-teman disini mengenalnya, bahkan ikut dalam barisan itu. Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian atau malah kebanyakan dari kita merangkap beberapa organisasi di UNESA ini khususnya. Tidak perlu menanyakan atau menginterograsi kepada siapapun, hal itu memang sering terjadi dimana-mana. Saya hanya mendengar berita-berita itu memang demikian, yaitu dengan “orang-orang yang sama” pada beberapa organisasi yang diembannya. Ma sya Allah.
      Ah saya jadi berkaca sendiri, teringat sama diri sendiri yang kemarin juga demikian. Namun bolehkah saya sedikit menceritakan disini?
Sungguh dalam ORMAWA itu memang benar-benar dikader sebagai seorang pemimpin. Saya akui banyak ilmu yang saya dapatkan termasuk yang paling unggul adalah ilmu public speaking dan mengorganisir sebuah kegiatan dimana disitu penyampaian pendapat benar-benar direalisasikan juga managemen organisasi. Disamping itu ilmu-ilmu tentang pergerakan mahasiswa sangat dikoar-koarkan. Tak heran jika mereka-mereka yang menjadi demisioner (alumni ormawa) menjadi deretan pemimpin hingga pejabat negara. Kakak angkatan saya ada yang sudah menjadi DPR, motivator, pengusaha sukses, dan sering mengisi materi di ORMAWA, itu sebagian contohnya.

Sekarang mari kita lihat dan renungkan sejenak.
       Betapa hebatnya bila seorang pemimpin-pemimpin itu berlandaskan dengan keimanan, dengan pengabdian kepada Robb-Nya untuk menyelaraskan pengabdian yang diembannya dengan warna-warna ruhani. Bagaimana jadinya bila demikian? Tentu syiar Islam ini benar-benar membumi, menjadi trending topic tersendiri.
       Sudah banyak tokoh dari pemimpin-pemimpin kita, sejak jaman sebelum kemerdekaan hingga saat ini. Masih ingat dengan sejarah kemerdekaan Republik Indonesia? Yap, yang ngaku WNI pasti tahu kan ya J Benar sekali, kemerdekaan RI tak lain adalah hasil perjuangan para mujahid-mujahidah yang senantiasa berikhtiar berperang melawan penjajah. Tentunya dengan bekal tekad dan niat yang lurus demi membela dan mempertahankan negerinya, Indonesia. Hanya dengan perlengkapan dan peralatan sederhana “bambu runcing” mereka bisa menakhlukkan para kolonialisme, tapi tak hanya bermodal itu, sujud dan do’a merekalah yang sesungguhnya menolongnya. Tepat di hari Jumat saat Ramadhan, Indonesia merdeka, sungguh terdapat tanda-tanda yang mulia. Itu bukan kebetulan, memang telah Allah takdirkan demikian. Betapa indah skenario Allah pada hamba-hamba-Nya yang mau berjuang.
Eh kenapa bahas sejarah ya jadinya :D he-he-he
       Iya lah, tanpa sejarah kita nggak akan melihat dunia yang sekarang bisa seperti ini. Semuanya bermula dari masa silam, dari masa lalu. Iya nggak Bu/Pak jurusan Sejarah? :D :D ciye yang sejarah….
         Nah sekarang kan sudah masa sekarang dan juga masa depan kan ya, saatnya kita berbuat untuk diri kita, berbuat untuk saudara-saudara kita, berbuat untuk Islam, dan berbuat untuk Indonesia.
“Hidup kita sebenarnya adalah nyata , bukan semu ataupun maya. Banyak tantangan dan godaan, lewati dan nikmati. Jalan hidup ini panjang, ekspresikan diri meraih mimpi. Terus mencoba memacu setir dan berkarya untuk masa depan, karena spion hanya berupa kaca kecil untuk masa lalu. Di samping kita banyak hal indah, bukankah kita ingin jadi yang terindah? Menjadi pribadi yang lebih berarti” (@merlia_na on instagram :D)
         Wah, sudah kemana-mana pembahasannya. Kembali ke topik tentang UKKI ya.
Jadi begini teman-teman, terkait yang pernah saya posting sebelumnya disini tentang “AYO NYALAKAN!” Saya bermaksud menautkan pemikiran dan aksi bersama antum sekalian. Jangan anggap ini “aksi” yang macam-macam, ini aksi positif demi gemilangnya UKKI. Kemarin postingan saya ada yang mengomentarin begini, “Bagaimana bisa? Bila teman-teman juga mengurusi ORMAWA.” Wah pas ini, bolehkah saya menanggapinya?
Oke, menurut saya itu berhubungan dengan loyalitas dan komitmen. Kita memilih dan mengikuti suatu organisasi bukankah berdasarkan niat dan alasan? Lalu niat yang bagaimana yang dulu pernah kita ikrarkan? Bila mulai pudar, yuk segera kembali meluruskan niat kita.
        Tak bisa dipungkiri juga dengan naluri manusia, yang kadang hatinya berbolak-balik. Terkadang merasa kering itu ada, rasa lelah itu nyata, rasa jenuh itu benar-benar mendidih, hingga alhasil ingin melarikan diri saja dari barisan ini. Mundur satu-persatu dari barisan yang telah dibuat. Mari kita beristighfar, astaghfirullah hal’adziim.
       Belum lagi tentang dilema para akademis yang masih merasa nyaman dengan ruangannya yang minimalis. (paham kan?)
Juga para komedian yang mencoba-coba memberi sekerdip senyuman lalu menghilang. (juga paham?)
       Ah itu persoalan klasik, lagi-lagi persoalan klasik. [Masih] sama dengan barisan-barisan di luar ini, demikian adanya. Ponsel sayapun masih saja berkicau dengan laporan progress report organisasi sebelah, sebelah, dan sebelah. Bukan apa-apa, hanya ingin bercerita bahwa semua organisasi memiliki perjuangannya masing-masing. Lalu mengapa saya memilih berbicara disini? He-he, benar saja saya ingin mengademkan diri tentunya. Ya, menurut saya disini adalah rumah singgah yang paling aman dan menentramkan. Bukan berarti yang lain tidak loh, justru berawal dari sini sayap-sayap itu bersinergi dan berkolaborasi.
      Seperti halnya ketika kemarin saya berada di barisan para calon negarawan, duilee tinggi nian. Benar bukan? Bukankah barisan itu adalah laboratorium kenegaraan lingkup kampus? [katanya].
Tafadhol antum berpendapat seperti apa J
Kalau in my opinion sih, ini lebih dari sekedar ORMAWA. Lebih dari sekedar laboratorium kenegaraan. Ya, karena disini saya merasa lebih mendapatkan hikmah semesta. Mendapatkan petunjuk dan rahmat-Nya lalu menggerakkan hati ini untuk senantiasa berada di jalan-Nya. Ya, karena saya yakin ada kehidupan lagi setelah kehidupan di dunia.
Uhuhu, keep calm sist..bro… bacanya serius banget :D
Apa perlu ice breaking sejenak? He-he.
Lanjut saja ya, tangan saya sudah mulai bereaksi :( :D
Ya, ya. Semua karena cinta. Cinta pada-Nya melebihi apapun yang ada di dunia J
Bukankah Ia yang memberi segalanya untuk kita?
Bukankah Ia yang menghidupkan dan mematikan?
Dan masih banyak bukankah-bukankah yang lain, he-he-he.
FYI (For your information), bukan berarti saya “nggak ngeh” dengan ORMAWA. Justru saya sangat turut bahagia dengannya. Ya iyalah, bagaimana tidak berterimakasih dengan organisasi yang pernah saya singgahi sendiri dan telah menjadikan perubahan pada diri ini.
Pada intinya saya ingin menyampaikan, “AYO BERSINERGI, AYO BERKOLABORASI!” J
Yeah, BERSINERGI DAN BERKOLABORASI. (Ilmu dari talkshow Gapai Bintangmu)
Bukan hanya ORMAWA, tapi UKM-UKM lain, komunitas-komunitas lain, organisasi-organisasi lain.
Begitu juga dengan Islam, kita orang Islam yah kita saudara seiman dan ayo sama-sama berjalan beriringan. Berjuang bersama menegakkan dakwah.
Berkolaborasi akan menciptakan suatu dentuman kekuatan yang dahsyat. In sya Allah, tentunya dengan pertolongan-Nya.
Seperti halnya passion yang ada di diri kita masing-masing. Kita mengikuti organisasi salah satu alasannya adalah karena passion yang kita miliki sehingga kita tergerak untuk “mensinergikan diri” menjadi suatu kelompok. KARENA BERJAMAAH ITU LEBIH MUDAH, RIGHT?
Saat ini lagi ngehits  sholat berjamaah dalam ospek kampus. Contohnya ITS, ITB, dan kemarin saya mendengar di UNS juga demikian. Yes, saya sangat terinspirasi dengan hal demikian. SEPAKAT BINGGO! Nggak jauh-jauh, ini persoalan pasti menuai dilema pada PKKMB UNESA sendiri. Kemarin kami juga membahas hal ini dengan teman-teman fakultas. Dan lagi-lagi “orang yang sama” dalam merangkap organisasi. Suatu perjuangan dimana kami awal bergerak terdiri dari orang-orang ORMAWA yang sejalan dan merintis komunitas dakwah di fakultas. Saat inipun masih sedang babat alas. Ya, hanya dengan petunjuk-petunjuk-Nya hati ini bergerak, dan tentunya ada orang yang menggerakkannya lalu bersinergi dengan kita. Alhamdulillah periode lalu Kepala Departemen Agama BEM fakultas kami adalah orang yang mempunyai visi misi tinggi, ia seorang yang paham tentang organisasi dan pergerakan mahasiswa namun sisi religiusnya lebih membuat orang-orang disekitarnya terinspirasi. Ia beda, ia benar-benar beda. Seorang yang mampu bertahan di lingkungan yang menurut saya itu suatu tantangan yang dibilang mudah nggak mudah, dibilang sulit nggak sulit. Tapi entahlah, tahu sendiri kan fakultas kami seperti apa. Gaya hidup yang demikian dan juga situasi ORMAWA yang wow (cukup melelahkan, pemirsa :D tapi sama aja kali dengan yang lain, hehe). Iya, dua kondisi yang tidak berbanding lurus. Dan juga kondisi divisi-divisi agama di jurusan nampaknya kurang menyala. Lalu Kadept Agama BEM kami berinisiatif untuk membuat komunitas dibawah Depag /LSO (Lembaga Semi Otonom) atau disebut LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) agar atmosfer hijau itu berada diantara kita. Menyatukan kita, bersinergi dari divisi-divisi agama jurusan. Alhamdulillah hal ini mendapat respon positif dari birokrasi fakultas. Kami minta do’anya ya teman-teman. Kami istilahnya masih peletakan batu pertama.
Dengan hal ini saya sungguh peduli lalu menuliskannya agar kita semua belajar, belajar melihat semesta. Masih ingat Anakoling? Analisis kondisi lingkungan. Saya yakin sudah paham. Ya, seperti cerita di atas.
Untuk mencegah double or triple de el el, yang berhubungan dengan dakwah di dalam UNESA khususnya. Bagaimana kalau kita rancang sistem kaderisasi UKKI ini. Agar menghasilkan kader yang sesuai passion, tempat, dan kapasitasnya. Misal usul seperti ini: dimana seorang itu ditempatkan di LDK, di LDF, di BEM F, di HMJ, di UKM-UKM. Dan ada fokus amanah yang diutamakan, namun tak menghalangi juga bila mengikuti beberapa organisasi. Tentunya memiliki skala prioritas dimana ia sebagai penggerak dan yang lain hanya sebagai anggota, misalnya. Semuanya pasti memiliki konsekuensinya, bisa ditanya pada diri sendiri. Menurut saya mengikuti organisasi sama dengan menyodorkan komitmen dan loyalitas, dan itu benar-benar harus dipertimbangkan. Tapi jika it’s okey punya banyak organisasi dan mampu menjalankannya karena berhubungan dengan yang namanya passion, yah itu mah kayak udah ada magnet tersendiri, it’s no problem. Karena saya pelakunya sendiri. Dan jangan mempermainkan sebuah kepercayaan, sekali-kali jangan. Konsekuensi ada pada diri dan akan dipertanggungjawabkan. Ya yang lebih urgent tadi ya terkait bidang dakwah ya teman, karena dakwah itu nggak mudah. Lebih dari sekedar ORMAWA maupun organisasi lain. Oleh karena itu mari kita bagi merata, nggak hanya dibebankan pada “orang yang sama.”.
 Jadi dakwah ini akan mewarnai dimanapun kita berada. Dengan satu visi dan misi yang sama. Bukankah “Kejahatan yang terorganisir lebih baik dari kebaikan yang tidak terorganisir” (Eh piye kalimate kui, lupa. Intinya kita bisa lebih kuat jika kebaikan itu bisa diorganisir. Itu quotenya Sayyidina Ali Bin Abi Thalib bukan ya? Lupa juga)
Sungguh saya lebih merasakan nikmatnya lelah karena lillah di barisan ini, nggak akan terasa bila perjuangan ini bisa menghasilkan senyum ketulusan. Saya tengah merindukan nuansa aroma surga macam ini setelah sekian sempat bertemu di jaman sekolah. Ketika saya berfokus di barisan yang kemarin saya bahagia, tapi seperti ada yang kurang walau posisinya juga berjuang di bagian dakwahnya. Kurangnya siraman cinta illahi yang sejatinya diperlukan qolbu ini. Karena kurang intensnya dengan obat hati nomor tiga. Maafkan saya yang muncul baru-baru ini, sudah saya ceritakan tadi di atas. Tapi itu kapasitas saya, nggak tahu kalo kapasitas teman-teman gimana.
Saya berharap ini menjadi muhasabah kita bersama, semoga kita bisa menempatkan diri sesuai kapasitas masing-masing. Dan dimanapun kita berada, dakwah adalah kita. Karena sejatinya yang membutuhkan dakwah adalah kita.
AYO BANGKIT, AYO MENYALA!
Saya sependapat sama komentarnya saudara Luthfi pada postingan ayo nyalakan berbunyi seperti ini,

LDK harus menjadi wadah pembangkit semangat berdakwah, khususnya UKKI..Di luar sudah butuh uluran semangat dan tekad kita untuk mengimbanginya,. Berawal dari niat dan tekad yang kuat serta kompak akan mewujudkan satu kekuatan yang menghasilkan kesuksesan yang besar”

Yup, maksud saya juga seperti itu. LDK adalah sebagai pondasinya dakwah kampus. 
Wassalamu'alaikum wr. wb.

Thanks for read, and see you later ..
^-^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar